HAMBATAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA
DALAM DAKWAH MULTIKUTURAL MODERN
A. Faktor Penghambat Komunikasi
Antarbudaya
faktor penghambat dalam komunikasi
lintas budaya yang sudah dikemukakan sang para ahli, di antaranya mirip berikut
ini (Barna, 1994):
1. Andaian
kesamaan
Kesalahpahaman bisa muncul karena
kita tak jarang berpikir bahwa terdapat kesamaan pada antara setiap insan di
semua dunia yang bisa membentuk proses berkomunikasi sebagai simpel. Padahal
kenyataannya, bentuk-bentuk adaptasi terhadap kebutuhan baik biologis juga
sosial dan nilai-nilai, agama, serta perilaku pada sekeliling kita
artinya sangat tidak sinkron antara budaya satu dengan yang lain.
2. perbedaan Bahasa
perseteruan dalam penggunaan bahasa
merupakan jika seseorang hanya memperhatikan satu makna saja dari satu kata
atau frasa yg ada pada bahasa baru, tanpa mempedulikan konotasi atau
konteksnya.
3. Kesalahan Interpretasi Non lisan
Orang-orang dari budaya yg tidak sama
mendiami empiris sensori yang berbeda jua. Mereka melihat, mendengar,
dan mencicipi hanya pada apa yang disebut bermakna bagi mereka.
4. Stereotip dan berpretensi
Stereotip ialah penghalang dalam
komunikasi karena bisa mensugesti cara pandang yang objektif terhadap suatu
stimulus.
5. kesamaan buat menghakimi atau menilai
Faktor penghalang lainnya buat
memahami orang-orang yang tidak sama budaya adalah kecenderungan buat
menghakimi, untuk menerima, atau menolak pernyataan dan tindakan
berasal orang atau kelompok lain
6. Kecemasan Tinggi
Bisa disebutkan sebagai orang yang
cakap atau kompeten dalam berkomunikasi antarbudaya, seorang harus bisa
mengatasi berbagai dilema yang ada, termasuk rasa khawatir atau cemas saat
berinteraksi menggunakan individu berasal budaya yang tidak selaras.
B. hambatan dalam dakwah multicultural
kegiatan dakwah pada Indonesia masih menghadapi kendala. Dakwah yang
dilakukan sang perorangan maupun secara kelembagaan, masih menampakkan egoisme
pribadi serta kelompok. dengan mengatasnamakan kebenaran serta kepercayaan ,
mereka melakukan penyerangan terhadap grup atau jamaah lain. duduk perkara
dakwah yang relatif krusial lainnya ialah Menyangkut perbedaan paham yang tak
jarang menghasilkan hubungan Sosial antarpemeluk
kepercayaan terganggu, bahkan pada taraf eksklusif mampu menyebabkan
kerawanan sosial. dilema disparitas ini tidak Hanya terjadi pada internal Islam
saja, melainkan jua pada Tataran kehidupan antarumat beragama. banyak sekali
perkara ketegangan mirip di atas merupakan informasi yg tidak terbantahkan.
Bila syarat mirip ini dibiarkan, maka kedamaian, keadilan, serta kenyamanan
Pendekatan persuasif dengan menghargai nilai budaya, serta adat tata cara
sebagai faktor penentu keberhasilan dakwah; bukan cara memaksa, menakut nakuti
dan intimidasi yag tidak sinkron menggunakan semangat Islam sebagai
agama damai. dalam konteks Indonesia yang masyarakatnya plural, model pendekatan
dakwah para da’i pendahulu yang telah berhasil mengembangkan Islam pada
Nusantara perlu tetap dipelihara serta dikembangkan,
C. Tantangan Dakwah di Era Modern
Semula, dakwah yang lebih banyak bersentuhan dengan ranah ibadah, selalu
dilandasi dengan niat dan motivasi untuk beribadah pula, yakni dilaksanakan
dengan penuh suka cita, hati yang ikhlas dan hanya mengharap ridla Allah Swt
semata. Namun, dalam perkembangannya pola berdakwah melalui media sebagai wujud
kemajuan teknologi menjadi tantangan bagi tersendiri bagi seseorang da’i.
Pengaruh media, memungkinkan seorang da’i memperoleh popularitas dimata
pemirsanya seperti layaknya
Seiring dengan kemajuan teknologi, sehingga cara berdakwah pun sekarang
mengalami perkembangan. Dakwah tidak lagi dilakukan secara sederhana tdak hanya
sebatas diatas mimbar, di masjid-masjid atau mushala tetapi mulai memanfaatkan
kemajuan media teknologi . Hal ini dilakukan agar dakwah lebih meluas dan agar
dakwah bisa dilakukan lebih efektif. Dakwah bisa dilakukan melalui media massa
dan diterima oleh orang banyak. Karena sifatnya massal maka penerima pesan
dakwah tidak hanya dikalangan tertentu saja. Kalangan yang dijangkau bisa luas
begitu pula dampak yang ditimbulkannya
Jalan dakwah bukan rentang yang pendek dan bebas hambatan, bahkan jalan
dakwah sebenarnya penuh dengan kesulitan, amat banyak kendala dengan jarak tak
terkira jauhnya. Tabiat ini perlu diketahui dan dikenali setiap aktivitas
dakwah, agar para juru dakwah bersiap diri menghadapi segala kemungkinan yang
akan terjadi diperjalanan sehingga revolusi informasi dan komunikasi di jalan
dakwah bisa kita atasi.
D. Kesimpulan
Dalam dakwah dilakukan untuk membimbing umat. Kegiatan dakwah di era
sekarang ini dituntut untuk melakukan upaya dan pendekatan dakwah yang lebih
mampu melindungi dan memperhatikan budaya masyarakat serta berlandaskan pada
nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Dakwah adalah sebuah proses, harus
dilakukan dengan cara dan strategi yang lebih terencana, konseptual dan
berkesinambungan serta terus meningkatkan pendekatan yang lebih bersahabat
tanpa mengubah maksud dan tujuan dakwah. perbedaan sehingga timbul rasa saling
menghormati dan menghargai. Dari sini diharapkan akan muncul modal budaya suatu
bangsa karena bangsa yang kehilangan modal budayanya akan sangat rentan
terhadap perpecahan. Penanaman pemahaman multikultural menjadi sangat strategis
untuk dapat mengelola pluralisme secara kreatif, sehingga konflik-konflik yang
muncul sebagai akibat dari transformasi dan reformasi sosial dapat dikelola
secara cerdas dan menjadi bagian dari pencerahan kehidupan bangsa di masa
depan.
Refrensi
Effendi,
Muchsin. Psikologi Dakwah, Jakarta: Prenada Setia, 2006.
Ma’arif,
Bambang S. Komunikasi Dakwah, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010.
Muhyiddin,
Asep. Metode Pengembangan Dakwah, Malaysia Pustaka Setia, 2002.
Sumbullah,
Umi. Islam Radikal dan Pluralisme Agama. Jakarta: Badan Litbang dan Diklat
Kementrian Agama, 2010.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar