SMALL BOOK
DAKWAH MULTIKUTURAL
Disusun oleh: ALFIAN FAHMI
KATA PENGANTAR
Puji
dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat Nya, penulis
dapat menyelesaikan small book ini yang berjudul “MENGENAL DAKWAH DALAM
MASYARAKAT MULTIKULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA”
Adapun
tujuan dari penyusunan makalah ini adalah sebagai salah satu syarat untuk memenuhi
tugas mata kuliah Media Dakwah dan Teknologi. Selama penyusunan makalah ini penulis
mendapatkan bimbingan dari berbagai pihak, sehingga penyusunan makalah ini
dapat diselesaikan.
Dalam
hal ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih atas bimbingan dan bantuan
yang telah diberikan oleh:.
1. Bpk
Abu Amar Bustomi selaku dosen pengampu mata kuliah Dakwah Multikultural Dan
Komunikasi Lintas Budaya.
2. Kedua
orang tua yang telah memberikan dukungan baik secara moril maupunmateril.
3. Teman-teman
seperjuangan dikampus.
Penulis
menyadari sepenuhnya bahwa small book ini tidak terlepas dari kekurangan. Untuk itu penulis senantiasa terbuka menerima
kritik dan saran yang membangun dari semua pihak guna kelengkapan dan
kesempurnaan makalah ini kedepan.
Akhir
kata kepada semua pihak yang telah membantu terwujudnya makalah ini penulis
mengucapkan banyak terimakasih.
Jazakumullah
KhairanKatsiro.
Surabaya,
20 Juni 2021
Alfian
fahmi
A. Moderasi
Agama dalam Fundamental dan Pendekatan Dakwah
Istilah moderasi diambil dari bahasa arabik dari akar kata yang
sama yaitu ََسَو َ ط yang artinya tengah atau moderat. Dalam islam berarti
menyatakan watak Islam adalah moderat dalam hal bertindak dan moderat dalam
segala urusan baik, tindakan, ucapan, atau pikiran.
Dalam moderasi beragama kita dituntut untuk
meningkatkan kualitas keilmuan dan selalu bertindak menjaga akal dan budi serta
selalu bertindak adil dan menjaga keseimbangan dalam toleransi beragama, karena
moderasi Bergama berupaya mewujudkan Indonesia yang toleran, rukun dan damai.
Masih menurut Prof Arskal tantangan sosial sekarang dimana hidup yang penuh
dengan lautan data/informasi, dihadapkan pada pilihan-pilihan rumit di era
pascakebenaran (post-truth) sehingga banyak dibantu oleh teknologi informasi yang bisa
mengakibatkan degradasi nilai dan rasa sosial kemanusiaan. Moderasi agama hadir
untuk mengatasi persoalan- persoalan diatas. Hubungannya dengan perguruan
tinggi moderasi kelembagaan harus diwujudkan dengan cara mengembangkan
institusi menjadi modern namun tetap dapat memperkuat akar dan tradisi islam. Selain
itu perguruan tinggi dituntut untuk menciptakan lulusan yang berkualitas,
berdaya saing, menguasai iptek dengan tetap merujuk pada nilai-nilai islam.
Allah
SWT menciptakan orang-orang dari berbagai suku, ras, dan bangsa untuk saling
mengenal. Berkat pengantar ini, mereka dapat belajar, memahami, memahami, dan
menikmati manfaat moral dan materi. Perkenalan ini niscaya menginspirasi semua
pihak untuk menjadi lebih baik dari yang lain dan bersaing dalam kebaikan.
Multikultural
Landasan dakwah multikultural dapat ditemukan dalam kitab suci Al-Qur’an yang
menegaskan bahwa fakta multikultural kemanusiaan yang beragam dan berbeda satu
sama lain adalah kehendak. sekaligus sunatullah bagi kehidupan manusia di ruang
sejarah. Multikulturalisme mengacu pada konsep multidimensi keberagaman yang
meliputi aspek bahasa, warna kulit, budaya, suku, bangsa dan agama. Ketika kita
mengacu pada Alquran, kita menemukan bahwa kemanusiaan yang multikultural
adalah kehendak dan sunnatullah dalam kehidupan manusia sepanjang sejarah. Di
ayat selanjutnya kita bisa lihat QS.ALHUJURAT.13: Yang
artinya Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang
laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa
dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di
antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha
Mengetahui, Mahateliti.
Allah
SWT menciptakan orang-orang dari berbagai suku, ras, dan bangsa untuk saling
mengenal. Berkat pengantar ini, mereka dapat belajar, memahami, memahami, dan
menikmati manfaat moral dan materi. Perkenalan ini niscaya menginspirasi semua
pihak untuk menjadi lebih baik dari yang lain dan bersaing dalam kebaikan
B. TUJUAN,
FUNGSI & PERANAN DAKWAH DALAM KOMUNIKASI ANTARBUDAYA
dakwah adalah proses mengubah semua ibadah diluar Allah menjadi
tauhid, mentransformasikan berbagai kondisi kehidupan kaki menjadi keadaan
kedamaian batin dan kemakmuran yang melekat berdasarkan nilai-nilai Islam. Dari
segi tujuan, fungsi dan peran dakwah dalam komunikasi antarbudaya dapat dilihat
dari beberapa aspek: Pertama, komunikasi antar budaya sangat mendukung metode
pelaksanaan dakwah Islam dan segala perubahannya melalui pertukaran. Kedua,
umat Islam harus mampu mengatasi faktor-faktor pergeseran yang mendorong
pergeseran nilai dalam menghadapi transformasi sistem nilai, termasuk kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi, perkembangan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi,
perubahan politik, kekuasaan pemerintahan, perubahan lingkungan biofisik dan
eksternalitas,pengaruh budaya. Ketiga, Perspektif Islam dalam menghadapi
tantangan zaman harus memahami dan mengetahui bahwa setidaknya ada tiga hal
yang perlu diselesaikan secara tuntas, yaitu sosial ekonomi, iptek, dan
moralitas agama.
Budaya adalah suatu pola hidup yang menyeluruh. Budaya bersifat
kompleks, abstrak dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan prilaku
komunikatif tetapi ada unsur sosial budaya mempunyai pengaruh besar dalam
membangun persepsi yang dimaksudkan adalah: 1) sistem-sistem kepercayaan
(belief), nilai (value), sikap (attitude), 2) pandangan (world view), 3)
organisasi sosial (social organization).
Hakikat dari komunikasi antarbudaya ini
merupakan kegiatan yang terjadi dalam berkomunikasi pada setiap individu dengan
individu lain hingga terbentuknya kemudahan dan pemahaman pada
perbedaan-perbedaan yang ada. Adapun beberapa fungsi komunikasi antarbudaya
diantaranya:
- Sebagai penanda identitas
sosial tiap individu sesuai perannya dalam masyarakat. Hal ini
tergantung pada individu dalam masyarakat.
- Intergrasi
sosial Komunikasi antarbudaya tidak hanya membuat masyarakat mengerti
satu sama lain namun, dapat mempersatukan interaksi tersebut.
- Menambah pengetahuan.
Komunikasi antarbudaya memberikan pemahaman budaya dari masing masing
masyarakat.
Komunikasi antarbudaya dalam masyarakat tidak
terlepas dari upaya dakwah Islam yang pada hakikatnya adalah upaya mengubah
masyarakat menuju keadaan yang lebih baik sesuai dengan perintah Allah dan
sunah Rasul-Nya. Esensi dakwah mengubah kondisi yang penuh dengan
ketenangan batin dan kesejahtraan berdasarkan nilai Islam. Sebaiknya perlu
mengetahui:
- Komunikasi antarbudaya dapat
mendukung terlaksananya dakwah melalui pendekatan komunikasi dengan
berbagai kreatifiasnya.
- Saat dai mengahadapi
pergeseran tata nilai harus mampu mengatasi perubahan dan faktor-faktor
penyebab terjadinya pergeseran itu.
- Perubahan faktor sosio ekonomi
sains teknologi dan etis realigius perlu dipahami dalam prospek
Islam
C. Toleransi
dan moderasi beragama
Dalam
kehidupan ini kita diberikan anugrahan yang luar biasa dalam hal kekayaan akan
keberagama. Betapa tidak, kita diciptakan dengan berbagai macam bentuk yang
berbeda, mulai dari bentuk tubuh, warna kulit, suku bangsa, budaya, dan agama
untuk hidup berdampingan. Sebagai mahluk sosial yang tentu saling membutuhkan
satu sama lain, sudah sepantasnya kita mensyukuri dan menyikapinya dengan baik
dan bijaksana. Di dalam kehidupan nyata, tidak semua kekayaan tersebut dapat
beriringan secara baik. Makna dari moderasi beragama itu bukanlah melakukan
”moderasi terhadap agama”, tetapi memoderasi pemahaman dan pengamalan umat
beragama dari sikap dan pemahaman ekstrim. Moderasi beragama di tanah air ini
untuk mewujudkan Indonesia yang adil dan makmur. Untuk
menjembatani perbedaan dapat diupayakan melalui pendidikan agar tercipta
kehidupan keberagamaan yang menimbulkan sikap saling menghormati dan menghargai
antar umat beragama. Toleransi merupakan sikap menghargai orang lain yang
mempunyai perbedaan baik dalam agama, suku, ras, dan bangsa. Sikap tersebut
harus dimiliki setiap orang untuk menjaga kerukunan hidup bermasyarakat di
suatu daerah bahkan negara.
Dalam konteks kehidupan berbangsa, tidak dapat
dipungkiri bahwa saat ini kita berhadapan dengan persoalan politik
kewarganegaraan yang kompleks terkait dengan perbedaan identitas. Menghargai
keberagaman, mengakui keberadaan dan hak orang lain, masih menjadi pekerjaan
rumah yang biasa dalam menyelesaikan persoalan bangsa kita. Dalam banyak kasus,
terdapat intoleransi yang memanifestasikan dirinya dalam tindakan yang
mendiskreditkan kelompok lain. Realitas sosial masa kini yang mengalami banyak
perubahan dari waktu ke waktu ternyata telah meningkatkan kecerdasan antar umat
beragama, sehingga konflik antar umat beragama semakin terlihat.
Pengertian Toleransi
Secara bahasa istilah toleransi berasal dari
bahasa inggris “tolerance” yang berarti membiarkan, mengakui
dan menghormati keyakinan orang lain tanpa persetujuan. Sedangkan dalam bahasa
arab istilah toleransi merujuk pada kata “tasamuh” yang
berarti saling mengizinkan atau saling memudahkan. Artinya, seseorang dapat
menenggang segala-perbedaan yang ada dalam lingkup kehidupannya. Soerjono
soekanto memberikan definisi toleransi sebagai suatu sikap yang merupakan
perwujudan pemahaman diri terhadap sikap pihak lain yang tidak disetujui. Di
sini ada perwujudan sikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) baik
itu berupa pendapat, pandangan, kepercayaan, maupun kebiasaan kelakuan dan lain
sebagainya yang berbeda dengan pendiriannya sendiri. Contohnya ialah toleransi
agama, suku, ras, dan sebagainya. Dalam konteks kehidupan berbangsa, tidak
dimungkiri bahwa kita sekarang menghadapi persoalan politik kewargaan yang
rumit kaitannya dengan perbedaan identitas. Sikap menghargai terhadap
kemajemukan untuk mengakui eksitensi dan hah-hak orang lain, masih menjadi
pekerjaan rumah bersama dalam mengelola problem bangsa kita. Dalam banyak hal,
yang terjadi justru intoleransi yang diwujudkan dalam tindakan-tindakan yang
mendiskreditkan kelompok lain. Realitas sosial saat ini yang dari masa kemasa
membuat banyak perubahan, inteloransi justru tumbuh antara umat beragama
sehingga konflik antara umat beragama semakin terlihat.
Toleransi multicultural
Indonesia telah lama dikenal sebagai negara laut
yang luas dan wilayahnya terdiri dari ribuan pulau, baik besar maupun kecil,
dimana pulau-pulau tersebut dipisahkan oleh lautan luas. Keragaman muncul dari
pulau-pulau ini dalam hal ras, agama, budaya, suku, dan bahasa. Namun di sisi
lain, keberagaman ini juga dapat menimbulkan konflik, karena banyaknya
perbedaan yang muncul di masyarakat. Oleh karena itu, untuk mencegah timbulnya
konflik diperlukan toleransi antar sesama anggota masyarakat. Toleransi dapat
diartikan sebagai rasa atau sikap menghargai antara individu dan kelompok dalam
masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Selain pencegahan konflik,
toleransi dapat meningkatkan rasionalisme dan meningkatkan kesejahteraan rakyat
Indonesia.
Masyarakat multikultural di sini lebih dipandang
sebagai masyarakat yang memiliki kesetaraan dalam tindakan di negaranya.
Masyarakat multikultural tidak hanya merupakan konsep keanekaragaman etnis atau
budaya nasional dalam masyarakat pluralis, tetapi lebih menekankan pada
keanekaragaman budaya pada kesetaraan. Islam adalah agama yang memelihara
toleransi antar umat beragama. Namun prinsip toleransi dalam Islam berbeda
karena kita tidak boleh ikut hajatan dan ucapan selamat atas perayaan umat
beragama lain. Dalam Islam, prinsip ajaran toleransi adalah menghormati tanpa
menghalangi pemeluk agama lain untuk beribadah dan merayakan hari besar
keagamaan.
لَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ
فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْٓا
اِلَيْهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ
artinya: Allah tidak melarang kamu berbuat
baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan
agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah
mencintai orang-orang yang berlaku adil. (Q.S Al- Mumtahanah
ayat 8-9.
Pengertian moderasi beragama
Dalam buku moderasi beragama yang diterbitkan
oleh badan litbang dan diklat kementerian agama tahun 2019 membuat analogi
moderasi beragama sebagai gerak dari pinggir yang selalu cenderung menuju pusat
atau sumbu (centripetal) berlawanan arti dengan ekstremisme yakni gerak yang
bergerak menjauhi sumbu, menuju sisi terluar dan ekstrem (centrifugal). Ibarat
bandul jam, ada gerak yang dinamis, tidak berhenti di suatu sisi luar secara
ektrem, melainkan bergerak menuju ketengah-tengah. dari segi bahasa,
moderasi beragama, atau isalm wasatiyah (serapan dari bahasa arab) dan islam
moderat (serapan dari bahasa inggris) memiliki kesamaan interpretasi. Jika kata
wasatiyah diserap kedalam bahasa indonesia menjadi pengatur atau penegah
kompetisi oleh raga dengan dasar huruf yang sama menjadi ism fa’il “wasit”.
Shalat wustha setelah salat secara umum berarti menunjukkan pengkhususan dan
pentingnya penjagaan dan perwatan salat wustha. Salat wustha salat yang ditengahtengah
dan yang paling utama. demikian pula dengan kata moderation menjadi moderator
sebagai penengah dalam mengarahkan pertemuan. Moderat selalu menghindari
pengungkapan (pembicaraan) yang ekstrem, selalu menghindar sikap, atau tindakan
yang ekstrem, kecenderungan ke jalan tengah. Memperhatikan berbagai pengertian
diatas, maka dapat disimpulkan bahwa moderasi beragama adalah
mengimplementasikan ajaran agama secara universal sesuai dengan ajaran dan
kepercayaan masaing-masing. Universal dalam artian manusia konsisten
mengamalkan agama dengan baik kepada sesama pemeluk agama maupun perilaku
beragama kepada lintas agama dan kepercayaan.
Tantangan moderasi beragama
Berbagai dinamika merupakan hal yang wajar bagi
masyarakat. Namun akan mejadi tidak wajar jika dinamika tersebut direspon
dengan sikap yang tidak seharusnya. Contoh anak A beragama islam bermain di
rumah anak B beragama Hindu. Orang tua anak A melarang bermain anaknya ke rumah
B karena berbeda agama. Hal ini merupakan sikap yang tidak positif sebab dapat
mencederai perasaan individu dan menyulut ketersinggungan beragama. Disinilah
pentingnya mengajari anak dan keluarga tentang arti dari moderasi beragama.
Moderasi beragama harus dipahami sebagai sikap beragama yang seimbang antara
pengamalan agama sendiri (eksklusif) dan penghormatan kepada praktik beragama
orang lain yang berbeda keyakinan (inklusif). Keseimbangan atau jalan tengah
dalam praktik beragama ini niscaya akan menghindarkan kita dari sikap ekstrem
berlebihan, fanatik dan sikap revolusioner dalam beragama. Seperti telah
diisyaratkan sebelumnya, moderasi beragama merupakan solusi atas hadirnya dua
kutub ekstrem dalam beragama, kutub ultrakonservatif atau ekstremkanan disatu
sisi, dan liberal atau ekstrem kiri disisi lain.
Di era modern dan serba
teknologi, muncul pula pemikiran-pemikiran yang modern.Tentunya pemikiran-pemikiran
tersebut tidak terlepas dari bermacam aspek seperti aspek pendidikan, sosial,
ekonomi, politik bahkan keagamaan. Modernisasi dalam bidang sains dan
teknologi, manusia dituntut untuk terus maju dan mampu beradaptasi pada segala
lini kehidupan(Mahfudz, A. 2016).. Pada era kemajuan ini ini membawa dampak
kemajuan pada masyarakat. Sosial media menjadi salah satu dampak
dari kemajuan teknologi (Sainuddin, I. H., S. 2020, July27). Di sisi
lain dengan kemajuan teknologi, agama tidak bisa terlepas dan
merupakan menjadi pedoman bagi manusia dalam menentukan arah hidup ke depan
(Amran, A. 2015). Salah satu ituyang menjadi dampak dari era
modernisasi adalah fenomena radikalisme. Fenomena radikalisme yang muncul dan
terjadi dimulai di wilayah timur tengah (Asrori A. 2015). Ini
terjadi akibat dari terjadinya krisis identitas yang dimana merupakan
mayoritasberagama menolak terjadinya modernisasi. Dengan penolakan
terhadap modernisasi yang dicanangkan oleh negara barat kepada
masyarakat Islam, maka terjadi sebuahkemunduran. Kemudian akibat
dari penolakan tersebut, maka muncul paham radikal dalam tatanan masyarakat
Islam sehingga terjadi kemerosotan moral dan agama yang disebabkan oleh
kemajuan teknologi sehingga ilmu pengetahuan dalam modernisasi pemahaman Islam
yang berhaluan Barat (Makhmudah, S. 2015). Munculnya paham
radikalisme merupakan suatu bentuk dari ekspresi orang Islam yang berhauan
barat.
D. Konsep dan Fenomena Corak Keberagamaan Masyarakat Nusantara
Latar Belakang
Ketika Islam hadir di Nusantara ini, ia merupakan
agama baru dan pendatang. Disebut agama baru karena kehadirannya lebih belakang
dibanding dengan agama Hindu, Budha, Animisme dan Dinamisme. Disebut sebagai
agama pendatang karena agama ini hadir dari luar negeri yaitu negara Arab.
Sebagai agama baru dan pendatang saat itu, Islam harus menempuh strategi dakwah
tertentu, melakukan berbagai adaptasi dan seleksi dalam menghadapi budaya dan
tradisi yang berkembang di Nusantara. Dalam perkembangannya, Islam mendapat
respons positif dari masyarakat Indonesia sehingga Islam mengalami perkembangan
pesat.
Ekpresi Islam lokal ini cenderung berkembang
sehingga menimbulkan Islam yang beragam. Inilah yang dimaksud dengan corak dan
warna Islam Nusantara. Ekpresi Islam yang berasal dari persentuhan
ajaran-ajaran budaya lokal di Nusantara telah melahirkan berbagai identitas
baru yang melekat. Identitas Islam yang baru ini menimbulkan kebingungan bagi
orang-orang awam, melahirkan penolakan dari kalangan Islam skripturalis maupun
formalis, tetapi menumbuhkan rasa simpati bagi kalangan Islam moderat, bahkan
sangat menarik perhatian bagi para ilmuwan sosial untuk mengamati dan
mencermati keunikannya masing-masing. Azyumardi Azra menjelaskan bahwa Islam
satu itu hanya terdapat pada al-Qur’an. Tetapi alQur’an (serta hadis) itu
membutuhkan penjabaran yang rinci sehingga maksud ayatayatnya perlu ditafsirkan
dan dijelaskan. Akhirnya menumbuhkan penjelasan dan penafsiran yang
berbeda-beda hingga mengkristal menjadi bangunan mazhab maupun aliran.
Pembahasan
A. Corak dan Warna Awal Islam Nusantara
- Adaptif dan Tasawwuf
Menurut teori A.H Johns para Sufi berhasil
mengislamkan banyak penduduk di kepulauan Melayu- Indonesia semanjak abad. Para
sufi menyajikan Islam dalam kemasan yang atraktif, menekankan kesesuaian dan
kontinuitas Islam dengan kepercayaan dan praktik agama lokal ketimbang aspek
perubahan. Kunci kesuksesan dakwah para sufi pengembara itu terletak pada
subtansi dan karakter ajaran para sufi pengembara itu: tasawuf. “Mereka (para
sufi pengembara) berkelana ke seluruh dunia yang mereka kenal, yang secara sukarela
hidup dalam kemiskinan; mereka sering berkaitan dengan kelompokkelompok dagang
atau kerajinan tangan, sesuai dengan tarekat yang mereka anut
- Adhesi bukan Konversi:
“Islamisasi Terbatas” Dalam pengamatan lain Azra dengan
meminjam istilah Nock menggunakan istilah “adhesi” daripada “konversi” sebagai
fenomena Islamisasi masyarakat Nusantara pada periode ini. “Adhesi” yakni
perubahan keyakinan pada Islam tanpa meninggalkan kepercayaan dan praktik
keagamaan yang lama, sedangkan “konversi” mengisyaratkan perubahan yang total
dan ketertundukan yang penuh pada Islam dengan menyingkirkan anasir-anasir
lokal. Sebagai seorang “modernis” Azra menambahkan bahwa “Wali Sanga di Jawa
mengenalkan Islam kepada penduduk lokal bukan dalam bentuk yang ekslusivitas
profetik, melainkan umumnya dalam bentuk kompromi-kompromi dengan
kepercayaan-kepercayaan lokal yang mapan yang banyak diwarnai takhayul atau
kepercayaan-kepercayaan animistik lainnya. Dalam banyak kasus, mereka menarik
banyak orang untuk memeluk Islam dengan menggunakan jimat, pesona ilmu
kesaktian dan trik-trik supernatural lainnya
Azyumardi Azra menegaskan bahwa fakta geografis
sangat penting dalam memahami dan menjelaskan islamisasi di kawasan Nusantara.
Posisi Nusantara yang jauh dari Arab menyebabkan islamisasi ini sangat berbeda
dengan islamisasi di kawasankawasan lainnya baik di Timur Tengah, Afrika Utara
maupun Asia Selatan. Islamisasi di Nusantara menggunakan pendekatan kultural
sehingga mencitrakan cara-cara yang damai, sedangkan islamisasi di kawasan
Timur Tengah menggunakan pendekatan militer berupa penaklukan sehingga
mencitrakan kekerasan
- Wali Sanga,
Islam Sufistik dan Nusantara Menurut Agus Sunyoto
kesuksesan islamisasi di tanah Jawa pada abad ke-15 dengan kedatangan rombongan
muslim dari Champa, Raden Rahmat (Sunan Ampel) sekitar tahun 1440 yang memiliki
bibi yang diperistri Raja Majapahit. Selanjutnya Islamisasi dimulai melalui
jaringan para juru dakwah (wali) secara terorganisir dan sistematis, mereka
memanfaatkan jaringan kekeluargaan, kekuasaan, kepiawaian mereka merebut
simpati masyarakat. Kekuatan gerakan ini terletak pada: (1) ajaran sufisme, (2)
asimilasi dalam pendidikan, (3) dakwah lewat seni dan budaya dan (4) membentuk
tatanan masyarakat muslim Nusantara.[5] Sufisme yang dimaksud adalah ajaran
wahdatul wujud (kesatuan wujud) dan wahdatus syuhud (kesatuan pandangan)
sehingga tidak terlalu asing dengan kepercayaan lokal yang mengakui banyak
arwah di mana-mana, dan dalam memandang benda-benda alam terpengaruh aura
ketuhanan.
- Sintesis
Mistik
Proses islamisasi terbatas dan bukan arabisasi
menjadi kunci sukses gerakan dakwah para Wali Sanga ini menghasilkan fenomena
keislaman yang unik dan khas yang disebut oleh Ricklefs sebagai “Sintesis
Mistik”. Ajaran Islam dan kepercayaan lokal tidak berhadap-hadapan dan
bertentangan dalam pola kepercayaan lokal (tesis) dan ajaran Islam sebagai
anti-tesis, namun ada upaya untuk menemukan sintesis dari keduanya, inilah
cikal-bakal dari Islam Nusantara. Dalam menerangkan “Sintesis Mistik” ini,
menurut Ricklefs ada tiga pilar utama kesadaran identitas Islami yang kuat:
menjadi orang Jawa berarti menjadi muslim; pelaksanaan lima rukun ritual dalam
Islam: syahadat, shalat lima kali sehari, membayar zakat, berpuasa Ramadhan,
dan menunaikan ibadah haji bagi yang mampu; terlepas dari kemungkinan munculnya
kontradiksi dengan dua pilar pertama, penerimaan terhadap realitas kekuatan
spiritual khas Jawa seperti Ratu Kidul, Sunan Lawu (roh Gunung Lawu yang pada
dasarnya adalah dewa angin) dan masih banyak lagi makhluk adikodrati yang lebih
rendah.
B. Konsep dan Fenomena Awal Islam Nusantara
Dengan menggunakan prinsip “Adhesi” bukan
“Konversi”. “Adhesi” adalah perubahan keyakinan pada Islam tanpa meninggalkan
kepercayaan dan praktik keagamaan yang lama, sedangkan “Konversi”
mengisyaratkan perubahan yang total dan ketertundukan yang penuh pada Islam
dengan menyingkirkan anasir-anasir lokal. Wali Sanga di Jawa mengenalkan Islam
kepada penduduk lokal bukan dengan ekstrimisme melainkan dalam bentuk kompromi
terhadap kepercayaan local yang banyak diwarnai takhayul atau kepercayaan
animistik lainnya. Dalam banyak kasus, mereka menarik banyak orang untuk
memeluk Islam dengan menggunakan jimat, pesona ilmu kesaktian dan trik-trik
supernatural lainnya
Kesuksesan islamisasi di tanah Jawa pada abad
ke-15 dengan kedatangan rombongan muslim dari Champa, Raden Rahmat (Sunan
Ampel) sekitar tahun 1440 yang memiliki bibi yang diperistri Raja Majapahit.
Selanjutnya Islamisasi dimulai melalui jaringan para juru dakwah (wali) secara
terorganisir dan sistematis, mereka memanfaatkan jaringan kekeluargaan,
kekuasaan, kepiawaian mereka merebut simpati masyarakat. Kekuatan gerakan ini
terletak pada
Ajaran sufisme “sintetis mistis”
Sufisme yang dimaksud adalah ajaran wahdatul
wujud (kesatuan wujud) dan wahdatus syuhud (kesatuan pandangan) sehingga tidak
terlalu asing dengan kepercayaan lokal yang mengakui banyak arwah di mana-mana,
dan dalam memandang benda-benda alam terpengaruh aura ketuhanan
Aslimilasi dalam Pendidikan
Asimilisasi pendidikan adalah pembangunan pesantren
yang mendidik generasi-generasi pelanjut dakwah Islam, dalam konteks Raden
Rakhmat (Sunan Ampel) terlihat peran anak dan muridnya dalam perkembangan Islam
di Jawa, seperti Sunan Bonang dan Raden Fatah sebagai sultan dari kerajaan
Islam pertama di Jawa, Demak.
3) Dakwah
lewat seni dan budaya
Gerakan dalam seni dan budaya dalam bentuk wayang
yang disesuaikan dengan kisah dan nafas Islam, juga keterlibatan para wali
dalam menyusun tembang, kidung, musik, hingga permainan anak-anak yang
bernafaskan Islam.
C. Konsep dan Fenomena Pertengahan Islam Nusantara
Lahirnya Neo-Sufisme. Neo-sufisme secara singkat
dapat dikatakan sebagai upaya penegasan kembali nilai-nilai Islam yang utuh,
yakni kehidupan yang berkeseimbangan dalam segala aspek kehidupan dan dalam
segi ekspresi kemanusiaan
Dulu sufisme tidak tertarik untuk memikirkan
masalah-masalah sosial kemasyarakatan, bahkan lebih tertumpu ke arah
aspek-aspek peribadatan saja. Dari sudut lain, terdapat pula kelompok muslimin
(bahkan mayoritasnya) yang lebih mengutamakan aspek-aspek formal-lahiriah
ajaran agama melalui pendekatan eksoterik-rasional. Dari banyak usaha percobaan
menyatukan antara dua pandangan yang berbeda orientasi itu, maka al-Ghazali
telah mengutarakan konsep yang dikenal sebagai syariat, tarekat, hakekat dan
makrifat yang terpadu secara utuh.
Adapun konsep neo-sufisme oleh Fazlur Rahman
sesungguhnya menghendaki agar umat Islam mampu melakukan tawazun (keseimbangan)
antara pemenuhan kepentingan akhirat dan kepentingan dunia, serta umat Islam
harus mampu memformulasikan ajaran Islam dalam kehidupan sosial. Kebangkitan
kembali tasawuf di dunia Islam dengan istilah baru yaitu Neo-Sufisme nampaknya
tidak boleh dipisahkan dari apa yang disebut sebagai kebangkitan agama.
D. Konsep dan Fenomena Modern Islam Nusantara
Tiga sumber utama dari modernisme adalah teori
dan praktik kapitalisme, industrialisasi dan negara bangsa. Pada tahap ini
Islam Nusantara sudah terlibat aktif dalam politik kebangsaan dan juga dalam
fenomena sosial budaya. Di era modern ini wajah Islam Nusantara mengalami
banyak kemajuan dan perubahan yang berarti, salah satu yang mengembirakan
adalah munculnya generasi Islam yang berpikir progresif dan terbuka kepada
konteks zaman yang diwarnai oleh globalisasi serta arus informasi dan
digitalisasi. Nilai-nilai pruralisme dan wacana hak asasi manusia serta
lingkungan hidup menjadi agenda yang kini makin lama makin sering menjadi
agenda bersama agama-agama di mana Islam terlibat aktif di dalamnya.
F. kesimpulan
Islam Nusantara yang menandai corak keberagamaan
telah melewati proses panjang dalam aktivitas dakwah para pendahulu yang mampu
mengkomunikasikan pesan-pesan Islami di tengah budaya local masyarakat yang
jauh sebelumnya telah memiliki seperangkat tradisi dan ritual kepercayaan non-Islami.
Kajian dengan pendekatan fenomenologis dan analisis wacana terhadap berbagai
sumber literatur dan media sosial, mengungkapkan fakta bahwa
karakteristik keberagamaan Islam Nusantara dapat menginspirasi gagasan-gagasan
inklusif, dinamis, dan dialogis bagi pelaku dakwah sebagai model pengembangan
dakwah dengan pola komunikasi lintas budaya.
E. Unsur dan Proses Komunikasi Antar Budaya
Komunikasi lintas budaya adalah terjadinya
pengiriman pesan dari seseorang yang berasal dari satu budaya yang berbeda
dengan pihak penerima pesan. Bila disederhanakan, komunikasi lintas budaya ini
memberi penekanan pada aspek perbedayaan kebudayaan sebagai faktor yang
menentukan bagi keberlangsungan proses komunikasi. Akulturasi mengacu pada
perubahan budaya dan psikologi disebabkan perjumpaan dengan orang yang berbeda
budaya yang juga menampakkan prilaku berbeda. Seperti, banyak kelompok di
Indonesia yang terakulturasi kedalam gaya hidup orang Barat baik dalam hal
berbusana, gaya hidup, system pemerintahan dan sebagainya. Selain itu, banyak
individu mengubah prilaku (seperti agama, bahasa, dan lain sebagainya).
Relatifitas persepsi, perilaku non verbal, gaya komunikasi, serta nilai dan
asumsi.
1) Bahasa
Bahasa merupakan suatu perangkat kata yang diikat
oleh berbagai peraturan. Mempelajari bahasa asing merupakan proses sederhana
dengan menyubtitusikan kata-kata dan peraturan tata bahasanya, sehingga
memiliki arti yang sama. Bahasa merupakan alat komunikasi dan juga sebagai
perwakilan atas persepsi dan pemikiran.
2) Persepsi
Pada tingkat dasar persepsi, bahasa dan budaya
membimbing kita dalam membentuk gambaran tertentu. Persepsi dalam komunikasi
antar budaya adalah proses mengungkap arti objek-objek sosial dan
kejadian-kejadian yang kita alami dalam lingkungan kita
3) Perilaku
non verbal
Bahasa verbal merupakan istilah digital, dengan
kata lain “kata” sebagai simbolisasi atas fenomena tertentu. Perilaku nonverbal
merupakan istilah analogi, yang mewakili fenomena tertentu dengan menciptakan
keadaan atau suasana yang diekspresikan secara langsung. Misalnya, secara
digital kita ucapkan “Aku Mencintai mu”.
4) Gaya
komunikasi
Pola kebiasaan dalam berpikir dimanifestasikan
dengan perilaku komunikasi. Karena kebiasaan berpikir kita sebagai besar
ditentukan oleh kebudayaan, sehingga saat proses pertukaran kebudayaan
seharusnya kita memerhatikan perbedaan dalam gaya komunikasi.
5) Berbagai
nilai dan asumsi
Nilai kebudayaan merupakan suatu pola atau norma
kebaikan dan keburukan yang dihasilkan oleh masyarakat yang kemudian digunakan
dalam kehidupan sehari-hari. Asusmsi kebudayaan berhubungan dengan nilai
kebudayaan, namun ia lebih lekat dengan fenomena-fenomena sosial.
unsur atau komponen komunikasi sebagai berikut:
1.
Manusia
Dalam proses komunikasi manusia tentunya
melibatkan beberapa orang yang masing-masing memiliki dua peran sekaligus yaitu
sebagai sumber pesan dan sebagai penerima pesan. Yang dimaksud dengan sumber
pesan adalah pihak yang menginisiasi sebuah pesan, dan yang dimaksud dengan
penerima pesan adalah pihak yang menjadi target pesan. Setiap individu tidaklah
menampilkan kedua peran ini secara independen. Melainkan, mereka berperan
sebagai sumber pesan dan penerima secara simultan dan berkesinambungan.
2.
Pesan
Pesan dalam komunikasi antar budaya dapat berupa
pesan verbal dan pesan nonverbal sebagai bentuk dari gagasan atau ide,
pemikiran, ataupun perasaan yang sumber pesan ingin sampaikan atau
komunikasikan kepada orang lain atau sekelompok orang yakni penerima pesan.
Pesan adalah sebuah isi dari interaksi yang termasuk didalamnya berupa
simbol-simbol (kata-kata atau frasa) yang digunakan untuk mengkomunikasikan
berbagai gagasan yang disertai dengan ekspresi wajah, gerakan tubuh, gesture,
kontak fisik, nada suara, dan kode-kode nonverbal lainnya.
3.
Media
saluran/Channel
Yang dimaksud dengan channel adalah saluran atau
media yang menjadi alur pesan dari sumber pesan kepada penerima pesan
4.
Umpan Balik
Feedback atau umpan balik adalah tanggapan yang
diberikan oleh penerima pesan yang berupa tanggapan verbal ataupun tanggapan
nonverbal
5.
Kode
Yang dimaksud dengan kode adalah sebuah susunan
sistematis dari simbol-simbol yang digunakan untuk menciptakan makna di dalam
pikiran orang atau orang lain. Simbol-simbol yang dimaksud dapat berupa
kata-kata, frasa, dan kalimat yang digunakan untuk membangkitkan atau
menciptakan gambar, pemikiran, dan ide di dalam kikiran orang lain.
6.
Enconding dan
Decoding
Proses komunikasi dapat dilihat dari Encoding dan
Decoding, Encoding didefinisikan sebagai sebuah proses mengartikan atau
menyandi sebuah pesan ke dalam sebuah kode. Decoding adalah proses memberikan
makna terhadap pesan tadi.
7.
Gangguang
atau Hambatan
Dalam segala sesuatu yang kita lakukan dalam
komunikasi antar budaya akan terjadi hambatan ataupun gangguan. Ganguan adalah
segala bentuk interferensi dalam proses encoding dan decoding yang mengurangi
kejelasan sebuah pean. Gangguan dapat bersifat fisik seperti suara yang sangat
keras atau sebuah perilaku yang tidak biasa misalnya seseorang yang berdiri
terlalu dekat dengan kita sehingga kita merasa tidak nyaman.
F. Aktivitas Komunikasi Lintas Budaya Verbal dan Non
Verbal Dalam Dakwah
Islam merupakan ajaran yang diturunkan agar manusia bisa
bersosialisasi dengan orang lain. Kemudian melahirkan budaya di masyarakat.
Sebagai ajaran yang bersumber dari Allah, Islam tidak bertentangan dengan
manusia karena Allah adalah sumber ajaran dan pencipta manusia dan alam. Islam
memandang masyarakat sebagai komunitas sosial dan wahana aktualisasi amal
kebaikan. Banyak ayat Alquran yang membahas tentang peran manusia di
tengah-tengah manusia lain menempatkan Islam sebagai agama yang paling
manusiawi dibandingkan dengan agama lain.
Komunikasi
tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia, baik secara individu maupun
sebagai anggota masyarakat. komunikasi pada dasarnya adalah penyampaian atau
pengiriman pesan yang berupa pikiran atau perasaan oleh seseorang. Perlu disadari
bahwa peran komunikasi sangat diperlukan dalam kehidupan bersosialisasi, bahkan
dalam bidang pendidikan agama. Seorang da’i harus dibekali ilmu
komunikasi agar apa yang disampaikanya dapat menjadi efektif dan mad’u dapat
memahami pesan dengan mudah. Telah disepakati bahwa fungsi komunikasi adalah
menyampaikan, mendidik, menghibur, dan mempengaruhi.
Aktivitas
dakwah yang dilakukan itu menggunakan dua bentuk komunikasi yaitu komunikasi
yang bersifat verbal dan komunikasi yang bersifat non verbal. Komunikasi yang
bersifat verbal dilakukan dengan cara lisan atau dengan kata-kata seperti
pidato, khutbah, sya’ir dan sebagainya. Sedangkan komunikasi nonverbal
merupakan proses komunikasi dimana pesan disampaikan melalui gerak isyarat,
bahasa tubuh, ekspresi wajah dan simbol-simbol tulisan seperti blog islami,
wayang kulit, kaligrafi, buku sejarah islam, kisah para nabi dan sahabatnya dan
sebagainya. Namun dalam Dakwah verbal lisan masih memerlukan bantuan isyarat
nonverbal berupa gerakan tangan, gerakan bibir, dan gerakan wajah. Adapun
strategi ini dilakukan untuk memberi pendekatan budaya dan meyakinkan mad’u.
Adapun
faktor penghambat aktivitas komunikasi dakwah ini adalah:
a.
Hambatan Sosio-antro-Psikologis proses
komunikasi berlangsung dalam konteks situasional. Ini berarti bahwa komunikator
harus memperhatikan situasi dan masalah yang muncul dimasyarakat.
b.
Hambatan semantic. Faktor semantis
menyangkut bahasa baik lisan maupun tulisan yang dipergunakan komunikator
sebagai “alat” untuk menyalurkan pikiran dan perasaannya kepada komunikan. Demi
kelancaran komunikasinya seorang komunikator harus benar-benar memperhatikan
gangguan semantis ini, sebab salah ucap atau salah tulis dapat menimbulkan
salah pengertian.
c.
Hambatan mekanis dijumpai pada media yang
dipergunakan dalam melancarkan komunikasi. Seperti suara microfon yang
krotokan, ketikan huruf yang buram tidak jelas dan double pada buku, suara yang
hilang-muncul pada pesawat radio, berita surat kabar yang sulit dicari
sambungan kolomnya, gambar yang meliuk-liuk pada storyboard, dan lain-lain.
d.
Hambatan ekologis disebabkan oleh gangguan
lingkungan terhadap proses berlangsungnya komunikasi, jadi datangnya dari lingkungan.
Contohnya adalah suara riuh orang-orang atau kebisingan lalu lintas, suara
hujan atau petir dan lain-lain pada saat da’i sedang menyampaikan materi
G. HAMBATAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA DALAM DAKWAH MULTIKUTURAL MODERN
A.
Faktor
Penghambat Komunikasi Antarbudaya
faktor penghambat dalam komunikasi lintas budaya yang sudah
dikemukakan sang para ahli, di antaranya mirip berikut ini (Barna, 1994):
1.
Andaian kesamaan
Kesalahpahaman bisa muncul karena kita tak
jarang berpikir bahwa terdapat kesamaan pada antara setiap insan di semua dunia
yang bisa membentuk proses berkomunikasi sebagai simpel. Padahal kenyataannya,
bentuk-bentuk adaptasi terhadap kebutuhan baik biologis juga sosial
dan nilai-nilai, agama, serta perilaku pada sekeliling kita artinya
sangat tidak sinkron antara budaya satu dengan yang lain.
2.
perbedaan Bahasa
perseteruan dalam penggunaan bahasa merupakan
jika seseorang hanya memperhatikan satu makna saja dari satu kata atau frasa yg
ada pada bahasa baru, tanpa mempedulikan konotasi atau konteksnya.
3.
Kesalahan Interpretasi
Non lisan
Orang-orang dari budaya yg tidak sama mendiami
empiris sensori yang berbeda jua. Mereka melihat, mendengar, dan mencicipi
hanya pada apa yang disebut bermakna bagi mereka.
4.
Stereotip
dan berpretensi
Stereotip ialah penghalang dalam komunikasi
karena bisa mensugesti cara pandang yang objektif terhadap suatu stimulus.
5. kesamaan buat menghakimi atau menilai
Faktor penghalang lainnya buat memahami
orang-orang yang tidak sama budaya adalah kecenderungan buat menghakimi, untuk
menerima, atau menolak pernyataan dan tindakan berasal orang atau
kelompok lain
6. Kecemasan Tinggi
Bisa disebutkan sebagai orang yang cakap atau
kompeten dalam berkomunikasi antarbudaya, seorang harus bisa mengatasi berbagai
dilema yang ada, termasuk rasa khawatir atau cemas saat berinteraksi
menggunakan individu berasal budaya yang tidak selaras.
B. hambatan dalam dakwah multicultural
kegiatan dakwah pada Indonesia masih menghadapi kendala. Dakwah
yang dilakukan sang perorangan maupun secara kelembagaan, masih menampakkan
egoisme pribadi serta kelompok. dengan mengatasnamakan kebenaran serta kepercayaan
, mereka melakukan penyerangan terhadap grup atau jamaah lain. duduk perkara
dakwah yang relatif krusial lainnya ialah Menyangkut perbedaan paham yang tak
jarang menghasilkan hubungan Sosial antarpemeluk
kepercayaan terganggu, bahkan pada taraf eksklusif mampu menyebabkan
kerawanan sosial. dilema disparitas ini tidak Hanya terjadi pada internal Islam
saja, melainkan jua pada Tataran kehidupan antarumat beragama. banyak sekali
perkara ketegangan mirip di atas merupakan informasi yg tidak terbantahkan.
Bila syarat mirip ini dibiarkan, maka kedamaian, keadilan, serta kenyamanan
Pendekatan persuasif dengan menghargai nilai budaya, serta adat
tata cara sebagai faktor penentu keberhasilan dakwah; bukan cara memaksa,
menakut nakuti dan intimidasi yag tidak sinkron menggunakan semangat
Islam sebagai agama damai. dalam konteks Indonesia yang masyarakatnya plural,
model pendekatan dakwah para da’i pendahulu yang telah berhasil mengembangkan
Islam pada Nusantara perlu tetap dipelihara serta dikembangkan,
C. Tantangan Dakwah di Era Modern
Semula, dakwah yang lebih banyak bersentuhan dengan ranah ibadah,
selalu dilandasi dengan niat dan motivasi untuk beribadah pula, yakni
dilaksanakan dengan penuh suka cita, hati yang ikhlas dan hanya mengharap ridla
Allah Swt semata. Namun, dalam perkembangannya pola berdakwah melalui media
sebagai wujud kemajuan teknologi menjadi tantangan bagi tersendiri bagi
seseorang da’i. Pengaruh media, memungkinkan seorang da’i memperoleh
popularitas dimata pemirsanya seperti layaknya
Seiring dengan kemajuan teknologi, sehingga cara berdakwah pun
sekarang mengalami perkembangan. Dakwah tidak lagi dilakukan secara sederhana
tdak hanya sebatas diatas mimbar, di masjid-masjid atau mushala tetapi mulai
memanfaatkan kemajuan media teknologi . Hal ini dilakukan agar dakwah lebih
meluas dan agar dakwah bisa dilakukan lebih efektif. Dakwah bisa dilakukan
melalui media massa dan diterima oleh orang banyak. Karena sifatnya massal maka
penerima pesan dakwah tidak hanya dikalangan tertentu saja. Kalangan yang
dijangkau bisa luas begitu pula dampak yang ditimbulkannya
Jalan dakwah bukan rentang yang pendek dan bebas hambatan, bahkan
jalan dakwah sebenarnya penuh dengan kesulitan, amat banyak kendala dengan
jarak tak terkira jauhnya. Tabiat ini perlu diketahui dan dikenali setiap
aktivitas dakwah, agar para juru dakwah bersiap diri menghadapi segala
kemungkinan yang akan terjadi diperjalanan sehingga revolusi informasi dan
komunikasi di jalan dakwah bisa kita atasi.
D. Kesimpulan
Dalam dakwah dilakukan untuk membimbing umat. Kegiatan dakwah di
era sekarang ini dituntut untuk melakukan upaya dan pendekatan dakwah yang
lebih mampu melindungi dan memperhatikan budaya masyarakat serta berlandaskan
pada nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Dakwah adalah sebuah proses, harus
dilakukan dengan cara dan strategi yang lebih terencana, konseptual dan
berkesinambungan serta terus meningkatkan pendekatan yang lebih bersahabat
tanpa mengubah maksud dan tujuan dakwah. perbedaan sehingga timbul rasa saling
menghormati dan menghargai. Dari sini diharapkan akan muncul modal budaya suatu
bangsa karena bangsa yang kehilangan modal budayanya akan sangat rentan
terhadap perpecahan. Penanaman pemahaman multikultural menjadi sangat strategis
untuk dapat mengelola pluralisme secara kreatif, sehingga konflik-konflik yang
muncul sebagai akibat dari transformasi dan reformasi sosial dapat dikelola
secara cerdas dan menjadi bagian dari pencerahan kehidupan bangsa di masa
depan.
referensi
Ma’arif, Bambang S. Komunikasi Dakwah, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010.
Muhyiddin, Asep. Metode Pengembangan Dakwah, Malaysia Pustaka Setia, 2002.
Sumbullah, Umi. Islam Radikal dan Pluralisme Agama. Jakarta: Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama, 2010
Toto Asmara, Komunikasi dakwah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997) cet ke-2 hal. 6
nong Uchjana efendy, Dinamika Komunikasi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya),2009, hlm. 11
Tidak ada komentar:
Posting Komentar