Minggu, 20 Juni 2021

DAKWAH MULTIKUTURAL UAS


 

SMALL BOOK 
DAKWAH MULTIKUTURAL 
Disusun oleh: ALFIAN FAHMI

KATA PENGANTAR

 

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat Nya, penulis dapat menyelesaikan small book ini yang berjudul “MENGENAL DAKWAH DALAM MASYARAKAT MULTIKULTURAL DAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA”

Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Media Dakwah dan Teknologi. Selama penyusunan makalah ini penulis mendapatkan bimbingan dari berbagai pihak, sehingga penyusunan makalah ini dapat diselesaikan.

Dalam hal ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih atas bimbingan dan bantuan yang telah diberikan oleh:.

1.      Bpk Abu Amar Bustomi selaku dosen pengampu mata kuliah Dakwah Multikultural Dan Komunikasi Lintas Budaya.

2.      Kedua orang tua yang telah memberikan dukungan baik secara moril maupunmateril.

3.      Teman-teman seperjuangan dikampus.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa small book ini tidak terlepas dari kekurangan.  Untuk itu penulis senantiasa terbuka menerima kritik dan saran yang membangun dari semua pihak guna kelengkapan dan kesempurnaan makalah ini kedepan.

Akhir kata kepada semua pihak yang telah membantu terwujudnya makalah ini penulis mengucapkan banyak terimakasih.

Jazakumullah KhairanKatsiro.

 

Surabaya, 20 Juni 2021

 

Alfian fahmi

 

A.   Moderasi Agama dalam Fundamental dan Pendekatan Dakwah

Istilah moderasi diambil dari bahasa arabik dari akar kata yang sama yaitu ََسَو َ  ط yang artinya tengah atau moderat. Dalam islam berarti menyatakan watak Islam adalah moderat dalam hal bertindak dan moderat dalam segala urusan baik, tindakan, ucapan, atau pikiran.

Dalam moderasi beragama kita dituntut untuk meningkatkan kualitas keilmuan dan selalu bertindak menjaga akal dan budi serta selalu bertindak adil dan menjaga keseimbangan dalam toleransi beragama, karena moderasi Bergama berupaya mewujudkan Indonesia yang toleran, rukun dan damai. Masih menurut Prof Arskal tantangan sosial sekarang dimana hidup yang penuh dengan lautan data/informasi, dihadapkan pada pilihan-pilihan rumit di era pascakebenaran (post-truth) sehingga banyak dibantu oleh teknologi informasi yang bisa mengakibatkan degradasi nilai dan rasa sosial kemanusiaan. Moderasi agama hadir untuk mengatasi persoalan- persoalan diatas. Hubungannya dengan perguruan tinggi moderasi kelembagaan harus diwujudkan dengan cara mengembangkan institusi menjadi modern namun tetap dapat memperkuat akar dan tradisi islam. Selain itu perguruan tinggi dituntut untuk menciptakan lulusan yang berkualitas, berdaya saing, menguasai iptek dengan tetap merujuk pada nilai-nilai islam.

Allah SWT menciptakan orang-orang dari berbagai suku, ras, dan bangsa untuk saling mengenal. Berkat pengantar ini, mereka dapat belajar, memahami, memahami, dan menikmati manfaat moral dan materi. Perkenalan ini niscaya menginspirasi semua pihak untuk menjadi lebih baik dari yang lain dan bersaing dalam kebaikan.

Multikultural Landasan dakwah multikultural dapat ditemukan dalam kitab suci Al-Qur’an yang menegaskan bahwa fakta multikultural kemanusiaan yang beragam dan berbeda satu sama lain adalah kehendak. sekaligus sunatullah bagi kehidupan manusia di ruang sejarah. Multikulturalisme mengacu pada konsep multidimensi keberagaman yang meliputi aspek bahasa, warna kulit, budaya, suku, bangsa dan agama. Ketika kita mengacu pada Alquran, kita menemukan bahwa kemanusiaan yang multikultural adalah kehendak dan sunnatullah dalam kehidupan manusia sepanjang sejarah. Di ayat selanjutnya kita bisa lihat QS.ALHUJURAT.13Yang artinya Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.

Allah SWT menciptakan orang-orang dari berbagai suku, ras, dan bangsa untuk saling mengenal. Berkat pengantar ini, mereka dapat belajar, memahami, memahami, dan menikmati manfaat moral dan materi. Perkenalan ini niscaya menginspirasi semua pihak untuk menjadi lebih baik dari yang lain dan bersaing dalam kebaikan

 

B.   TUJUAN, FUNGSI & PERANAN DAKWAH DALAM KOMUNIKASI ANTARBUDAYA

dakwah adalah proses mengubah semua ibadah diluar Allah menjadi tauhid, mentransformasikan berbagai kondisi kehidupan kaki menjadi keadaan kedamaian batin dan kemakmuran yang melekat berdasarkan nilai-nilai Islam. Dari segi tujuan, fungsi dan peran dakwah dalam komunikasi antarbudaya dapat dilihat dari beberapa aspek: Pertama, komunikasi antar budaya sangat mendukung metode pelaksanaan dakwah Islam dan segala perubahannya melalui pertukaran. Kedua, umat Islam harus mampu mengatasi faktor-faktor pergeseran yang mendorong pergeseran nilai dalam menghadapi transformasi sistem nilai, termasuk kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, perkembangan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi, perubahan politik, kekuasaan pemerintahan, perubahan lingkungan biofisik dan eksternalitas,pengaruh budaya. Ketiga, Perspektif Islam dalam menghadapi tantangan zaman harus memahami dan mengetahui bahwa setidaknya ada tiga hal yang perlu diselesaikan secara tuntas, yaitu sosial ekonomi, iptek, dan moralitas agama.

Budaya adalah suatu pola hidup yang menyeluruh. Budaya bersifat kompleks, abstrak dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan prilaku komunikatif tetapi ada unsur sosial budaya mempunyai pengaruh besar dalam membangun persepsi yang dimaksudkan adalah: 1) sistem-sistem kepercayaan (belief), nilai (value), sikap (attitude), 2) pandangan (world view), 3) organisasi sosial (social organization).

Hakikat dari komunikasi antarbudaya ini merupakan kegiatan yang terjadi dalam berkomunikasi pada setiap individu dengan individu lain hingga terbentuknya kemudahan dan pemahaman pada perbedaan-perbedaan yang ada. Adapun beberapa fungsi komunikasi antarbudaya diantaranya:

  1.  Sebagai penanda identitas sosial tiap individu sesuai perannya dalam masyarakat. Hal ini tergantung pada individu dalam masyarakat.
  2.  Intergrasi sosial Komunikasi antarbudaya tidak hanya membuat masyarakat mengerti satu sama lain namun, dapat mempersatukan interaksi tersebut.
  3.  Menambah pengetahuan. Komunikasi antarbudaya memberikan pemahaman budaya dari masing masing masyarakat.

Komunikasi antarbudaya dalam masyarakat tidak terlepas dari upaya dakwah Islam yang pada hakikatnya adalah upaya mengubah masyarakat menuju keadaan yang lebih baik sesuai dengan perintah Allah dan sunah Rasul-Nya. Esensi dakwah mengubah kondisi yang penuh dengan ketenangan batin dan kesejahtraan berdasarkan nilai Islam. Sebaiknya perlu mengetahui:

  1. Komunikasi antarbudaya dapat mendukung terlaksananya dakwah melalui pendekatan komunikasi dengan berbagai kreatifiasnya.
  2.  Saat dai mengahadapi pergeseran tata nilai harus mampu mengatasi perubahan dan faktor-faktor penyebab terjadinya pergeseran itu.
  3. Perubahan faktor sosio ekonomi sains teknologi dan etis realigius perlu dipahami dalam prospek Islam 

C.   Toleransi dan moderasi beragama

Dalam kehidupan ini kita diberikan anugrahan yang luar biasa dalam hal kekayaan akan keberagama. Betapa tidak, kita diciptakan dengan berbagai macam bentuk yang berbeda, mulai dari bentuk tubuh, warna kulit, suku bangsa, budaya, dan agama untuk hidup berdampingan. Sebagai mahluk sosial yang tentu saling membutuhkan satu sama lain, sudah sepantasnya kita mensyukuri dan menyikapinya dengan baik dan bijaksana. Di dalam kehidupan nyata, tidak semua kekayaan tersebut dapat beriringan secara baik. Makna dari moderasi beragama itu bukanlah melakukan ”moderasi terhadap agama”, tetapi memoderasi pemahaman dan pengamalan umat beragama dari sikap dan pemahaman ekstrim. Moderasi beragama di tanah air ini untuk mewujudkan Indonesia yang adil dan makmurUntuk menjembatani perbedaan dapat diupayakan melalui pendidikan agar tercipta kehidupan keberagamaan yang menimbulkan sikap saling menghormati dan menghargai antar umat beragama. Toleransi merupakan sikap menghargai orang lain yang mempunyai perbedaan baik dalam agama, suku, ras, dan bangsa. Sikap tersebut harus dimiliki setiap orang untuk menjaga kerukunan hidup bermasyarakat di suatu daerah bahkan negara.

Dalam konteks kehidupan berbangsa, tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini kita berhadapan dengan persoalan politik kewarganegaraan yang kompleks terkait dengan perbedaan identitas. Menghargai keberagaman, mengakui keberadaan dan hak orang lain, masih menjadi pekerjaan rumah yang biasa dalam menyelesaikan persoalan bangsa kita. Dalam banyak kasus, terdapat intoleransi yang memanifestasikan dirinya dalam tindakan yang mendiskreditkan kelompok lain. Realitas sosial masa kini yang mengalami banyak perubahan dari waktu ke waktu ternyata telah meningkatkan kecerdasan antar umat beragama, sehingga konflik antar umat beragama semakin terlihat.

Pengertian Toleransi

Secara bahasa istilah toleransi berasal dari bahasa inggris “tolerance” yang berarti membiarkan, mengakui dan menghormati keyakinan orang lain tanpa persetujuan. Sedangkan dalam bahasa arab istilah toleransi merujuk pada kata “tasamuh” yang berarti saling mengizinkan atau saling memudahkan. Artinya, seseorang dapat menenggang segala-perbedaan yang ada dalam lingkup kehidupannya. Soerjono soekanto memberikan definisi toleransi sebagai suatu sikap yang merupakan perwujudan pemahaman diri terhadap sikap pihak lain yang tidak disetujui. Di sini ada perwujudan sikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) baik itu berupa pendapat, pandangan, kepercayaan, maupun kebiasaan kelakuan dan lain sebagainya yang berbeda dengan pendiriannya sendiri. Contohnya ialah toleransi agama, suku, ras, dan sebagainya. Dalam konteks kehidupan berbangsa, tidak dimungkiri bahwa kita sekarang menghadapi persoalan politik kewargaan yang rumit kaitannya dengan perbedaan identitas. Sikap menghargai terhadap kemajemukan untuk mengakui eksitensi dan hah-hak orang lain, masih menjadi pekerjaan rumah bersama dalam mengelola problem bangsa kita. Dalam banyak hal, yang terjadi justru intoleransi yang diwujudkan dalam tindakan-tindakan yang mendiskreditkan kelompok lain. Realitas sosial saat ini yang dari masa kemasa membuat banyak perubahan, inteloransi justru tumbuh antara umat beragama sehingga konflik antara umat beragama semakin terlihat.

Toleransi multicultural

Indonesia telah lama dikenal sebagai negara laut yang luas dan wilayahnya terdiri dari ribuan pulau, baik besar maupun kecil, dimana pulau-pulau tersebut dipisahkan oleh lautan luas. Keragaman muncul dari pulau-pulau ini dalam hal ras, agama, budaya, suku, dan bahasa. Namun di sisi lain, keberagaman ini juga dapat menimbulkan konflik, karena banyaknya perbedaan yang muncul di masyarakat. Oleh karena itu, untuk mencegah timbulnya konflik diperlukan toleransi antar sesama anggota masyarakat. Toleransi dapat diartikan sebagai rasa atau sikap menghargai antara individu dan kelompok dalam masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Selain pencegahan konflik, toleransi dapat meningkatkan rasionalisme dan meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia. 

Masyarakat multikultural di sini lebih dipandang sebagai masyarakat yang memiliki kesetaraan dalam tindakan di negaranya. Masyarakat multikultural tidak hanya merupakan konsep keanekaragaman etnis atau budaya nasional dalam masyarakat pluralis, tetapi lebih menekankan pada keanekaragaman budaya pada kesetaraan. Islam adalah agama yang memelihara toleransi antar umat beragama. Namun prinsip toleransi dalam Islam berbeda karena kita tidak boleh ikut hajatan dan ucapan selamat atas perayaan umat beragama lain. Dalam Islam, prinsip ajaran toleransi adalah menghormati tanpa menghalangi pemeluk agama lain untuk beribadah dan merayakan hari besar keagamaan. 

لَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْٓا اِلَيْهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ

artinya: Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.  (Q.S Al- Mumtahanah ayat 8-9. 

Pengertian moderasi beragama

Dalam buku moderasi beragama yang diterbitkan oleh badan litbang dan diklat kementerian agama tahun 2019 membuat analogi moderasi beragama sebagai gerak dari pinggir yang selalu cenderung menuju pusat atau sumbu (centripetal) berlawanan arti dengan ekstremisme yakni gerak yang bergerak menjauhi sumbu, menuju sisi terluar dan ekstrem (centrifugal). Ibarat bandul jam, ada gerak yang dinamis, tidak berhenti di suatu sisi luar secara ektrem, melainkan bergerak menuju ketengah-tengah.  dari segi bahasa, moderasi beragama, atau isalm wasatiyah (serapan dari bahasa arab) dan islam moderat (serapan dari bahasa inggris) memiliki kesamaan interpretasi. Jika kata wasatiyah diserap kedalam bahasa indonesia menjadi pengatur atau penegah kompetisi oleh raga dengan dasar huruf yang sama menjadi ism fa’il “wasit”. Shalat wustha setelah salat secara umum berarti menunjukkan pengkhususan dan pentingnya penjagaan dan perwatan salat wustha. Salat wustha salat yang ditengahtengah dan yang paling utama. demikian pula dengan kata moderation menjadi moderator sebagai penengah dalam mengarahkan pertemuan. Moderat selalu menghindari pengungkapan (pembicaraan) yang ekstrem, selalu menghindar sikap, atau tindakan yang ekstrem, kecenderungan ke jalan tengah. Memperhatikan berbagai pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa moderasi beragama adalah mengimplementasikan ajaran agama secara universal sesuai dengan ajaran dan kepercayaan masaing-masing. Universal dalam artian manusia konsisten mengamalkan agama dengan baik kepada sesama pemeluk agama maupun perilaku beragama kepada lintas agama dan kepercayaan.

Tantangan moderasi beragama

Berbagai dinamika merupakan hal yang wajar bagi masyarakat. Namun akan mejadi tidak wajar jika dinamika tersebut direspon dengan sikap yang tidak seharusnya. Contoh anak A beragama islam bermain di rumah anak B beragama Hindu. Orang tua anak A melarang bermain anaknya ke rumah B karena berbeda agama. Hal ini merupakan sikap yang tidak positif sebab dapat mencederai perasaan individu dan menyulut ketersinggungan beragama. Disinilah pentingnya mengajari anak dan keluarga tentang arti dari moderasi beragama. Moderasi beragama harus dipahami sebagai sikap beragama yang seimbang antara pengamalan agama sendiri (eksklusif) dan penghormatan kepada praktik beragama orang lain yang berbeda keyakinan (inklusif). Keseimbangan atau jalan tengah dalam praktik beragama ini niscaya akan menghindarkan kita dari sikap ekstrem berlebihan, fanatik dan sikap revolusioner dalam beragama. Seperti telah diisyaratkan sebelumnya, moderasi beragama merupakan solusi atas hadirnya dua kutub ekstrem dalam beragama, kutub ultrakonservatif atau ekstremkanan disatu sisi, dan liberal atau ekstrem kiri disisi lain.

Di era modern dan serba teknologi,  muncul pula pemikiran-pemikiran yang modern.Tentunya pemikiran-pemikiran tersebut tidak terlepas dari bermacam aspek seperti aspek pendidikan, sosial, ekonomi, politik bahkan keagamaan. Modernisasi dalam bidang sains dan teknologi, manusia dituntut untuk terus maju dan mampu beradaptasi pada segala lini kehidupan(Mahfudz, A. 2016).. Pada era kemajuan ini ini membawa dampak kemajuan  pada masyarakat. Sosial media menjadi salah satu dampak dari kemajuan teknologi (Sainuddin, I. H., S. 2020, July27).  Di sisi lain dengan kemajuan teknologi,  agama tidak bisa terlepas dan merupakan menjadi pedoman bagi manusia dalam menentukan arah hidup ke depan (Amran, A. 2015).  Salah satu ituyang menjadi dampak dari era modernisasi adalah fenomena radikalisme. Fenomena radikalisme yang muncul dan terjadi dimulai di wilayah timur tengah (Asrori A. 2015).  Ini terjadi akibat dari terjadinya krisis identitas yang dimana merupakan mayoritasberagama menolak terjadinya modernisasi. Dengan  penolakan terhadap modernisasi yang dicanangkan oleh negara barat  kepada masyarakat Islam, maka terjadi sebuahkemunduran.  Kemudian akibat dari penolakan tersebut, maka muncul paham radikal dalam tatanan masyarakat Islam sehingga terjadi kemerosotan moral dan agama yang disebabkan oleh kemajuan teknologi sehingga ilmu pengetahuan dalam modernisasi pemahaman Islam yang berhaluan Barat (Makhmudah, S. 2015).  Munculnya paham radikalisme merupakan suatu bentuk dari ekspresi orang Islam yang berhauan barat.

D.    Konsep dan Fenomena Corak Keberagamaan Masyarakat Nusantara

Latar Belakang

Ketika Islam hadir di Nusantara ini, ia merupakan agama baru dan pendatang. Disebut agama baru karena kehadirannya lebih belakang dibanding dengan agama Hindu, Budha, Animisme dan Dinamisme. Disebut sebagai agama pendatang karena agama ini hadir dari luar negeri yaitu negara Arab. Sebagai agama baru dan pendatang saat itu, Islam harus menempuh strategi dakwah tertentu, melakukan berbagai adaptasi dan seleksi dalam menghadapi budaya dan tradisi yang berkembang di Nusantara. Dalam perkembangannya, Islam mendapat respons positif dari masyarakat Indonesia sehingga Islam mengalami perkembangan pesat.

Ekpresi Islam lokal ini cenderung berkembang sehingga menimbulkan Islam yang beragam. Inilah yang dimaksud dengan corak dan warna Islam Nusantara. Ekpresi Islam yang berasal dari persentuhan ajaran-ajaran budaya lokal di Nusantara telah melahirkan berbagai identitas baru yang melekat. Identitas Islam yang baru ini menimbulkan kebingungan bagi orang-orang awam, melahirkan penolakan dari kalangan Islam skripturalis maupun formalis, tetapi menumbuhkan rasa simpati bagi kalangan Islam moderat, bahkan sangat menarik perhatian bagi para ilmuwan sosial untuk mengamati dan mencermati keunikannya masing-masing. Azyumardi Azra menjelaskan bahwa Islam satu itu hanya terdapat pada al-Qur’an. Tetapi alQur’an (serta hadis) itu membutuhkan penjabaran yang rinci sehingga maksud ayatayatnya perlu ditafsirkan dan dijelaskan. Akhirnya menumbuhkan penjelasan dan penafsiran yang berbeda-beda hingga mengkristal menjadi bangunan mazhab maupun aliran.

Pembahasan

A.    Corak dan Warna Awal Islam Nusantara

  • Adaptif dan Tasawwuf 

Menurut teori A.H Johns para Sufi berhasil mengislamkan banyak penduduk di kepulauan Melayu- Indonesia semanjak abad. Para sufi menyajikan Islam dalam kemasan yang atraktif, menekankan kesesuaian dan kontinuitas Islam dengan kepercayaan dan praktik agama lokal ketimbang aspek perubahan. Kunci kesuksesan dakwah para sufi pengembara itu terletak pada subtansi dan karakter ajaran para sufi pengembara itu: tasawuf. “Mereka (para sufi pengembara) berkelana ke seluruh dunia yang mereka kenal, yang secara sukarela hidup dalam kemiskinan; mereka sering berkaitan dengan kelompokkelompok dagang atau kerajinan tangan, sesuai dengan tarekat yang mereka anut

  • Adhesi bukan Konversi:

“Islamisasi Terbatas” Dalam pengamatan lain Azra dengan meminjam istilah Nock menggunakan istilah “adhesi” daripada “konversi” sebagai fenomena Islamisasi masyarakat Nusantara pada periode ini. “Adhesi” yakni perubahan keyakinan pada Islam tanpa meninggalkan kepercayaan dan praktik keagamaan yang lama, sedangkan “konversi” mengisyaratkan perubahan yang total dan ketertundukan yang penuh pada Islam dengan menyingkirkan anasir-anasir lokal. Sebagai seorang “modernis” Azra menambahkan bahwa “Wali Sanga di Jawa mengenalkan Islam kepada penduduk lokal bukan dalam bentuk yang ekslusivitas profetik, melainkan umumnya dalam bentuk kompromi-kompromi dengan kepercayaan-kepercayaan lokal yang mapan yang banyak diwarnai takhayul atau kepercayaan-kepercayaan animistik lainnya. Dalam banyak kasus, mereka menarik banyak orang untuk memeluk Islam dengan menggunakan jimat, pesona ilmu kesaktian dan trik-trik supernatural lainnya

Azyumardi Azra menegaskan bahwa fakta geografis sangat penting dalam memahami dan menjelaskan islamisasi di kawasan Nusantara. Posisi Nusantara yang jauh dari Arab menyebabkan islamisasi ini sangat berbeda dengan islamisasi di kawasankawasan lainnya baik di Timur Tengah, Afrika Utara maupun Asia Selatan. Islamisasi di Nusantara menggunakan pendekatan kultural sehingga mencitrakan cara-cara yang damai, sedangkan islamisasi di kawasan Timur Tengah menggunakan pendekatan militer berupa penaklukan sehingga mencitrakan kekerasan

  • Wali Sanga,

Islam Sufistik dan Nusantara Menurut Agus Sunyoto kesuksesan islamisasi di tanah Jawa pada abad ke-15 dengan kedatangan rombongan muslim dari Champa, Raden Rahmat (Sunan Ampel) sekitar tahun 1440 yang memiliki bibi yang diperistri Raja Majapahit. Selanjutnya Islamisasi dimulai melalui jaringan para juru dakwah (wali) secara terorganisir dan sistematis, mereka memanfaatkan jaringan kekeluargaan, kekuasaan, kepiawaian mereka merebut simpati masyarakat. Kekuatan gerakan ini terletak pada: (1) ajaran sufisme, (2) asimilasi dalam pendidikan, (3) dakwah lewat seni dan budaya dan (4) membentuk tatanan masyarakat muslim Nusantara.[5] Sufisme yang dimaksud adalah ajaran wahdatul wujud (kesatuan wujud) dan wahdatus syuhud (kesatuan pandangan) sehingga tidak terlalu asing dengan kepercayaan lokal yang mengakui banyak arwah di mana-mana, dan dalam memandang benda-benda alam terpengaruh aura ketuhanan.

  •  Sintesis Mistik

Proses islamisasi terbatas dan bukan arabisasi menjadi kunci sukses gerakan dakwah para Wali Sanga ini menghasilkan fenomena keislaman yang unik dan khas yang disebut oleh Ricklefs sebagai “Sintesis Mistik”. Ajaran Islam dan kepercayaan lokal tidak berhadap-hadapan dan bertentangan dalam pola kepercayaan lokal (tesis) dan ajaran Islam sebagai anti-tesis, namun ada upaya untuk menemukan sintesis dari keduanya, inilah cikal-bakal dari Islam Nusantara. Dalam menerangkan “Sintesis Mistik” ini, menurut Ricklefs ada tiga pilar utama kesadaran identitas Islami yang kuat: menjadi orang Jawa berarti menjadi muslim; pelaksanaan lima rukun ritual dalam Islam: syahadat, shalat lima kali sehari, membayar zakat, berpuasa Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji bagi yang mampu; terlepas dari kemungkinan munculnya kontradiksi dengan dua pilar pertama, penerimaan terhadap realitas kekuatan spiritual khas Jawa seperti Ratu Kidul, Sunan Lawu (roh Gunung Lawu yang pada dasarnya adalah dewa angin) dan masih banyak lagi makhluk adikodrati yang lebih rendah.

B.    Konsep dan Fenomena Awal Islam Nusantara

Dengan menggunakan prinsip “Adhesi” bukan “Konversi”. “Adhesi” adalah perubahan keyakinan pada Islam tanpa meninggalkan kepercayaan dan praktik keagamaan yang lama, sedangkan “Konversi” mengisyaratkan perubahan yang total dan ketertundukan yang penuh pada Islam dengan menyingkirkan anasir-anasir lokal. Wali Sanga di Jawa mengenalkan Islam kepada penduduk lokal bukan dengan ekstrimisme melainkan dalam bentuk kompromi terhadap kepercayaan local yang banyak diwarnai takhayul atau kepercayaan animistik lainnya. Dalam banyak kasus, mereka menarik banyak orang untuk memeluk Islam dengan menggunakan jimat, pesona ilmu kesaktian dan trik-trik supernatural lainnya

Kesuksesan islamisasi di tanah Jawa pada abad ke-15 dengan kedatangan rombongan muslim dari Champa, Raden Rahmat (Sunan Ampel) sekitar tahun 1440 yang memiliki bibi yang diperistri Raja Majapahit. Selanjutnya Islamisasi dimulai melalui jaringan para juru dakwah (wali) secara terorganisir dan sistematis, mereka memanfaatkan jaringan kekeluargaan, kekuasaan, kepiawaian mereka merebut simpati masyarakat. Kekuatan gerakan ini terletak pada

Ajaran sufisme “sintetis mistis”

Sufisme yang dimaksud adalah ajaran wahdatul wujud (kesatuan wujud) dan wahdatus syuhud (kesatuan pandangan) sehingga tidak terlalu asing dengan kepercayaan lokal yang mengakui banyak arwah di mana-mana, dan dalam memandang benda-benda alam terpengaruh aura ketuhanan  

Aslimilasi dalam Pendidikan

Asimilisasi pendidikan adalah pembangunan pesantren yang mendidik generasi-generasi pelanjut dakwah Islam, dalam konteks Raden Rakhmat (Sunan Ampel) terlihat peran anak dan muridnya dalam perkembangan Islam di Jawa, seperti Sunan Bonang dan Raden Fatah sebagai sultan dari kerajaan Islam pertama di Jawa, Demak.

3)      Dakwah lewat seni dan budaya

Gerakan dalam seni dan budaya dalam bentuk wayang yang disesuaikan dengan kisah dan nafas Islam, juga keterlibatan para wali dalam menyusun tembang, kidung, musik, hingga permainan anak-anak yang bernafaskan Islam.

C.    Konsep dan Fenomena Pertengahan Islam Nusantara

Lahirnya Neo-Sufisme. Neo-sufisme secara singkat dapat dikatakan sebagai upaya penegasan kembali nilai-nilai Islam yang utuh, yakni kehidupan yang berkeseimbangan dalam segala aspek kehidupan dan dalam segi ekspresi kemanusiaan

Dulu sufisme tidak tertarik untuk memikirkan masalah-masalah sosial kemasyarakatan, bahkan lebih tertumpu ke arah aspek-aspek peribadatan saja. Dari sudut lain, terdapat pula kelompok muslimin (bahkan mayoritasnya) yang lebih mengutamakan aspek-aspek formal-lahiriah ajaran agama melalui pendekatan eksoterik-rasional. Dari banyak usaha percobaan menyatukan antara dua pandangan yang berbeda orientasi itu, maka al-Ghazali telah mengutarakan konsep yang dikenal sebagai syariat, tarekat, hakekat dan makrifat yang terpadu secara utuh.

Adapun konsep neo-sufisme oleh Fazlur Rahman sesungguhnya menghendaki agar umat Islam mampu melakukan tawazun (keseimbangan) antara pemenuhan kepentingan akhirat dan kepentingan dunia, serta umat Islam harus mampu memformulasikan ajaran Islam dalam kehidupan sosial. Kebangkitan kembali tasawuf di dunia Islam dengan istilah baru yaitu Neo-Sufisme nampaknya tidak boleh dipisahkan dari apa yang disebut sebagai kebangkitan agama.

D.  Konsep dan Fenomena Modern Islam Nusantara

Tiga sumber utama dari modernisme adalah teori dan praktik kapitalisme, industrialisasi dan negara bangsa. Pada tahap ini Islam Nusantara sudah terlibat aktif dalam politik kebangsaan dan juga dalam fenomena sosial budaya. Di era modern ini wajah Islam Nusantara mengalami banyak kemajuan dan perubahan yang berarti, salah satu yang mengembirakan adalah munculnya generasi Islam yang berpikir progresif dan terbuka kepada konteks zaman yang diwarnai oleh globalisasi serta arus informasi dan digitalisasi. Nilai-nilai pruralisme dan wacana hak asasi manusia serta lingkungan hidup menjadi agenda yang kini makin lama makin sering menjadi agenda bersama agama-agama di mana Islam terlibat aktif di dalamnya.

F. kesimpulan 

Islam Nusantara yang menandai corak keberagamaan telah melewati proses panjang dalam aktivitas dakwah para pendahulu yang mampu mengkomunikasikan pesan-pesan Islami di tengah budaya local masyarakat yang jauh sebelumnya telah memiliki seperangkat tradisi dan ritual kepercayaan non-Islami. Kajian dengan pendekatan fenomenologis dan analisis wacana terhadap berbagai sumber  literatur dan media sosial, mengungkapkan fakta bahwa karakteristik keberagamaan Islam Nusantara dapat menginspirasi gagasan-gagasan inklusif, dinamis, dan dialogis bagi pelaku dakwah sebagai model pengembangan dakwah dengan pola komunikasi lintas budaya. 

E.   Unsur dan Proses Komunikasi Antar Budaya

Komunikasi lintas budaya adalah terjadinya pengiriman pesan dari seseorang yang berasal dari satu budaya yang berbeda dengan pihak penerima pesan. Bila disederhanakan, komunikasi lintas budaya ini memberi penekanan pada aspek perbedayaan kebudayaan sebagai faktor yang menentukan bagi keberlangsungan proses komunikasi. Akulturasi mengacu pada perubahan budaya dan psikologi disebabkan perjumpaan dengan orang yang berbeda budaya yang juga menampakkan prilaku berbeda. Seperti, banyak kelompok di Indonesia yang terakulturasi kedalam gaya hidup orang Barat baik dalam hal berbusana, gaya hidup, system pemerintahan dan sebagainya. Selain itu, banyak individu mengubah prilaku (seperti agama, bahasa, dan lain sebagainya). Relatifitas persepsi, perilaku non verbal, gaya komunikasi, serta nilai dan asumsi.

1)      Bahasa

Bahasa merupakan suatu perangkat kata yang diikat oleh berbagai peraturan. Mempelajari bahasa asing merupakan proses sederhana dengan menyubtitusikan kata-kata dan peraturan tata bahasanya, sehingga memiliki arti yang sama. Bahasa merupakan alat komunikasi dan juga sebagai perwakilan atas persepsi dan pemikiran.

2)      Persepsi

Pada tingkat dasar persepsi, bahasa dan budaya membimbing kita dalam membentuk gambaran tertentu. Persepsi dalam komunikasi antar budaya adalah proses mengungkap arti objek-objek sosial dan kejadian-kejadian yang kita alami dalam lingkungan kita

3)      Perilaku non verbal

Bahasa verbal merupakan istilah digital, dengan kata lain “kata” sebagai simbolisasi atas fenomena tertentu. Perilaku nonverbal merupakan istilah analogi, yang mewakili fenomena tertentu dengan menciptakan keadaan atau suasana yang diekspresikan secara langsung. Misalnya, secara digital kita ucapkan “Aku Mencintai mu”. 

4)      Gaya komunikasi

Pola kebiasaan dalam berpikir dimanifestasikan dengan perilaku komunikasi. Karena kebiasaan berpikir kita sebagai besar ditentukan oleh kebudayaan, sehingga saat proses pertukaran kebudayaan seharusnya kita memerhatikan perbedaan dalam gaya komunikasi.

5)      Berbagai nilai dan asumsi

Nilai kebudayaan merupakan suatu pola atau norma kebaikan dan keburukan yang dihasilkan oleh masyarakat yang kemudian digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Asusmsi kebudayaan berhubungan dengan nilai kebudayaan, namun ia lebih lekat dengan fenomena-fenomena sosial.

unsur atau komponen komunikasi sebagai berikut:

1.      Manusia

Dalam proses komunikasi manusia tentunya melibatkan beberapa orang yang masing-masing memiliki dua peran sekaligus yaitu sebagai sumber pesan dan sebagai penerima pesan. Yang dimaksud dengan sumber pesan adalah pihak yang menginisiasi sebuah pesan, dan yang dimaksud dengan penerima pesan adalah pihak yang menjadi target pesan. Setiap individu tidaklah menampilkan kedua peran ini secara independen. Melainkan, mereka berperan sebagai sumber pesan dan penerima secara simultan dan berkesinambungan.

2.      Pesan

Pesan dalam komunikasi antar budaya dapat berupa pesan verbal dan pesan nonverbal sebagai bentuk dari gagasan atau ide, pemikiran, ataupun perasaan yang sumber pesan ingin sampaikan atau komunikasikan kepada orang lain atau sekelompok orang yakni penerima pesan. Pesan adalah sebuah isi dari interaksi yang termasuk didalamnya berupa simbol-simbol (kata-kata atau frasa) yang digunakan untuk mengkomunikasikan berbagai gagasan yang disertai dengan ekspresi wajah, gerakan tubuh, gesture, kontak fisik, nada suara, dan kode-kode nonverbal lainnya. 

3.      Media saluran/Channel

Yang dimaksud dengan channel adalah saluran atau media yang menjadi alur pesan dari sumber pesan kepada penerima pesan

4.      Umpan Balik

Feedback atau umpan balik adalah tanggapan yang diberikan oleh penerima pesan yang berupa tanggapan verbal ataupun tanggapan nonverbal

5.      Kode

Yang dimaksud dengan kode adalah sebuah susunan sistematis dari simbol-simbol yang digunakan untuk menciptakan makna di dalam pikiran orang atau orang lain. Simbol-simbol yang dimaksud dapat berupa kata-kata, frasa, dan kalimat yang digunakan untuk membangkitkan atau menciptakan gambar, pemikiran, dan ide di dalam kikiran orang lain. 

6.      Enconding dan Decoding

Proses komunikasi dapat dilihat dari Encoding dan Decoding, Encoding didefinisikan sebagai sebuah proses mengartikan atau menyandi sebuah pesan ke dalam sebuah kode. Decoding adalah proses memberikan makna terhadap pesan tadi.

7.      Gangguang atau Hambatan

Dalam segala sesuatu yang kita lakukan dalam komunikasi antar budaya akan terjadi hambatan ataupun gangguan. Ganguan adalah segala bentuk interferensi dalam proses encoding dan decoding yang mengurangi kejelasan sebuah pean. Gangguan dapat bersifat fisik seperti suara yang sangat keras atau sebuah perilaku yang tidak biasa misalnya seseorang yang berdiri terlalu dekat dengan kita sehingga kita merasa tidak nyaman.

F.    Aktivitas Komunikasi Lintas Budaya Verbal dan Non Verbal Dalam Dakwah

Islam merupakan ajaran yang diturunkan agar manusia bisa bersosialisasi dengan orang lain. Kemudian melahirkan budaya di masyarakat. Sebagai ajaran yang bersumber dari Allah, Islam tidak bertentangan dengan manusia karena Allah adalah sumber ajaran dan pencipta manusia dan alam. Islam memandang masyarakat sebagai komunitas sosial dan wahana aktualisasi amal kebaikan. Banyak ayat Alquran yang membahas tentang peran manusia di tengah-tengah manusia lain menempatkan Islam sebagai agama yang paling manusiawi dibandingkan dengan agama lain.

Komunikasi tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia, baik secara individu maupun sebagai anggota masyarakat. komunikasi pada dasarnya adalah penyampaian atau pengiriman pesan yang berupa pikiran atau perasaan oleh seseorang. Perlu disadari bahwa peran komunikasi sangat diperlukan dalam kehidupan bersosialisasi, bahkan dalam bidang pendidikan agama. Seorang da’i  harus dibekali ilmu komunikasi agar apa yang disampaikanya dapat menjadi efektif dan mad’u dapat memahami pesan dengan mudah. Telah disepakati bahwa fungsi komunikasi adalah menyampaikan, mendidik, menghibur, dan mempengaruhi.

Aktivitas dakwah yang dilakukan itu menggunakan dua bentuk komunikasi yaitu komunikasi yang bersifat verbal dan komunikasi yang bersifat non verbal. Komunikasi yang bersifat verbal dilakukan dengan cara lisan atau dengan kata-kata seperti pidato, khutbah, sya’ir dan sebagainya. Sedangkan komunikasi nonverbal merupakan proses komunikasi dimana pesan disampaikan melalui gerak isyarat, bahasa tubuh, ekspresi wajah dan simbol-simbol tulisan seperti blog islami, wayang kulit, kaligrafi, buku sejarah islam, kisah para nabi dan sahabatnya dan sebagainya. Namun dalam Dakwah verbal lisan masih memerlukan bantuan isyarat nonverbal berupa gerakan tangan, gerakan bibir, dan gerakan wajah. Adapun strategi ini dilakukan untuk memberi pendekatan budaya dan meyakinkan mad’u.

Adapun faktor penghambat aktivitas komunikasi dakwah ini adalah:

a.              Hambatan Sosio-antro-Psikologis proses komunikasi berlangsung dalam konteks situasional. Ini berarti bahwa komunikator harus memperhatikan situasi dan masalah yang muncul dimasyarakat.

b.              Hambatan semantic. Faktor semantis menyangkut bahasa baik lisan maupun tulisan yang dipergunakan komunikator sebagai “alat” untuk menyalurkan pikiran dan perasaannya kepada komunikan. Demi kelancaran komunikasinya seorang komunikator harus benar-benar memperhatikan gangguan semantis ini, sebab salah ucap atau salah tulis dapat menimbulkan salah pengertian.

c.              Hambatan mekanis dijumpai pada media yang dipergunakan dalam melancarkan komunikasi. Seperti suara microfon yang krotokan, ketikan huruf yang buram tidak jelas dan double pada buku, suara yang hilang-muncul pada pesawat radio, berita surat kabar yang sulit dicari sambungan kolomnya, gambar yang meliuk-liuk pada storyboard, dan lain-lain.

d.              Hambatan ekologis disebabkan oleh gangguan lingkungan terhadap proses berlangsungnya komunikasi, jadi datangnya dari lingkungan. Contohnya adalah suara riuh orang-orang atau kebisingan lalu lintas, suara hujan atau petir dan lain-lain pada saat da’i sedang menyampaikan materi

G.  HAMBATAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA DALAM DAKWAH MULTIKUTURAL MODERN

A.    Faktor Penghambat Komunikasi Antarbudaya

faktor penghambat dalam komunikasi lintas budaya yang sudah dikemukakan sang para ahli, di antaranya mirip berikut ini (Barna, 1994):

1.      Andaian kesamaan

Kesalahpahaman bisa muncul karena kita tak jarang berpikir bahwa terdapat kesamaan pada antara setiap insan di semua dunia yang bisa membentuk proses berkomunikasi sebagai simpel. Padahal kenyataannya, bentuk-bentuk adaptasi terhadap kebutuhan baik biologis juga sosial dan  nilai-nilai, agama, serta perilaku pada sekeliling kita artinya sangat tidak sinkron antara budaya satu dengan yang lain.

2.      perbedaan Bahasa

perseteruan dalam penggunaan bahasa merupakan jika seseorang hanya memperhatikan satu makna saja dari satu kata atau frasa yg ada pada bahasa baru, tanpa mempedulikan konotasi atau konteksnya.

3.      Kesalahan Interpretasi Non lisan

Orang-orang dari budaya yg tidak sama mendiami empiris sensori yang berbeda jua. Mereka melihat, mendengar, dan  mencicipi hanya pada apa yang disebut bermakna bagi mereka.

4.      Stereotip dan  berpretensi

Stereotip ialah penghalang dalam komunikasi karena bisa mensugesti cara pandang yang objektif terhadap suatu stimulus.

5.      kesamaan buat menghakimi atau menilai

Faktor penghalang lainnya buat memahami orang-orang yang tidak sama budaya adalah kecenderungan buat menghakimi, untuk menerima, atau menolak pernyataan dan  tindakan berasal orang atau kelompok lain

6.      Kecemasan Tinggi

Bisa disebutkan sebagai orang yang cakap atau kompeten dalam berkomunikasi antarbudaya, seorang harus bisa mengatasi berbagai dilema yang ada, termasuk rasa khawatir atau cemas saat berinteraksi menggunakan individu berasal budaya yang tidak selaras.

B.     hambatan dalam dakwah multicultural

kegiatan dakwah pada Indonesia masih menghadapi kendala. Dakwah yang dilakukan sang perorangan maupun secara kelembagaan, masih menampakkan egoisme pribadi serta kelompok. dengan mengatasnamakan kebenaran serta kepercayaan , mereka melakukan penyerangan terhadap grup atau jamaah lain. duduk perkara dakwah yang relatif krusial lainnya ialah Menyangkut perbedaan paham yang tak jarang menghasilkan hubungan Sosial antarpemeluk kepercayaan  terganggu, bahkan pada taraf eksklusif mampu menyebabkan kerawanan sosial. dilema disparitas ini tidak Hanya terjadi pada internal Islam saja, melainkan jua pada Tataran kehidupan antarumat beragama. banyak sekali perkara ketegangan mirip di atas merupakan informasi yg tidak terbantahkan. Bila syarat mirip ini dibiarkan, maka kedamaian, keadilan, serta kenyamanan

Pendekatan persuasif dengan menghargai nilai budaya, serta adat tata cara sebagai faktor penentu keberhasilan dakwah; bukan cara memaksa, menakut nakuti dan  intimidasi yag tidak sinkron menggunakan semangat Islam sebagai agama damai. dalam konteks Indonesia yang masyarakatnya plural, model pendekatan dakwah para da’i pendahulu yang telah berhasil mengembangkan Islam pada Nusantara perlu tetap dipelihara serta dikembangkan, 

C.     Tantangan Dakwah di Era Modern

Semula, dakwah yang lebih banyak bersentuhan dengan ranah ibadah, selalu dilandasi dengan niat dan motivasi untuk beribadah pula, yakni dilaksanakan dengan penuh suka cita, hati yang ikhlas dan hanya mengharap ridla Allah Swt semata. Namun, dalam perkembangannya pola berdakwah melalui media sebagai wujud kemajuan teknologi menjadi tantangan bagi tersendiri bagi seseorang da’i. Pengaruh media, memungkinkan seorang da’i memperoleh popularitas dimata pemirsanya seperti layaknya

Seiring dengan kemajuan teknologi, sehingga cara berdakwah pun sekarang mengalami perkembangan. Dakwah tidak lagi dilakukan secara sederhana tdak hanya sebatas diatas mimbar, di masjid-masjid atau mushala tetapi mulai memanfaatkan kemajuan media teknologi . Hal ini dilakukan agar dakwah lebih meluas dan agar dakwah bisa dilakukan lebih efektif. Dakwah bisa dilakukan melalui media massa dan diterima oleh orang banyak. Karena sifatnya massal maka penerima pesan dakwah tidak hanya dikalangan tertentu saja. Kalangan yang dijangkau bisa luas begitu pula dampak yang ditimbulkannya

Jalan dakwah bukan rentang yang pendek dan bebas hambatan, bahkan jalan dakwah sebenarnya penuh dengan kesulitan, amat banyak kendala dengan jarak tak terkira jauhnya. Tabiat ini perlu diketahui dan dikenali setiap aktivitas dakwah, agar para juru dakwah bersiap diri menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi diperjalanan sehingga revolusi informasi dan komunikasi di jalan dakwah bisa kita atasi.

D.    Kesimpulan

Dalam dakwah dilakukan untuk membimbing umat. Kegiatan dakwah di era sekarang ini dituntut untuk melakukan upaya dan pendekatan dakwah yang lebih mampu melindungi dan memperhatikan budaya masyarakat serta berlandaskan pada nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Dakwah adalah sebuah proses, harus dilakukan dengan cara dan strategi yang lebih terencana, konseptual dan berkesinambungan serta terus meningkatkan pendekatan yang lebih bersahabat tanpa mengubah maksud dan tujuan dakwah. perbedaan sehingga timbul rasa saling menghormati dan menghargai. Dari sini diharapkan akan muncul modal budaya suatu bangsa karena bangsa yang kehilangan modal budayanya akan sangat rentan terhadap perpecahan. Penanaman pemahaman multikultural menjadi sangat strategis untuk dapat mengelola pluralisme secara kreatif, sehingga konflik-konflik yang muncul sebagai akibat dari transformasi dan reformasi sosial dapat dikelola secara cerdas dan menjadi bagian dari pencerahan kehidupan bangsa di masa depan.


referensi 

 Effendi, Muchsin. Psikologi Dakwah, Jakarta: Prenada Setia, 2006.

Ma’arif, Bambang S. Komunikasi Dakwah, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010.

Muhyiddin, Asep. Metode Pengembangan Dakwah, Malaysia Pustaka Setia, 2002.

Sumbullah, Umi. Islam Radikal dan Pluralisme Agama. Jakarta: Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama, 2010

Toto Asmara, Komunikasi dakwah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997) cet ke-2 hal. 6

http://eprints.umm.ac.id/

nong Uchjana efendy, Dinamika Komunikasi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya),2009, hlm. 11

https://gurupengajar.com/pengertian-aktivitas.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DAKWAH MULTIKUTURAL UAS

  SMALL BOOK  DAKWAH MULTIKUTURAL  Disusun oleh: ALFIAN FAHMI KATA PENGANTAR   Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, ...