Konsep dan Fenomena Corak Keberagamaan Masyarakat
Nusantara
Latar
Belakang
Ketika
Islam hadir di Nusantara ini, ia merupakan agama baru dan pendatang. Disebut
agama baru karena kehadirannya lebih belakang dibanding dengan agama Hindu,
Budha, Animisme dan Dinamisme. Disebut sebagai agama pendatang karena agama ini
hadir dari luar negeri yaitu negara Arab. Sebagai agama baru dan pendatang saat
itu, Islam harus menempuh strategi dakwah tertentu, melakukan berbagai adaptasi
dan seleksi dalam menghadapi budaya dan tradisi yang berkembang di Nusantara.
Dalam perkembangannya, Islam mendapat respons positif dari masyarakat Indonesia
sehingga Islam mengalami perkembangan pesat.
Ekpresi Islam lokal
ini cenderung berkembang sehingga menimbulkan Islam yang beragam. Inilah yang
dimaksud dengan corak dan warna Islam Nusantara. Ekpresi Islam yang berasal
dari persentuhan ajaran-ajaran budaya lokal di Nusantara telah melahirkan
berbagai identitas baru yang melekat. Identitas Islam yang baru ini menimbulkan
kebingungan bagi orang-orang awam, melahirkan penolakan dari kalangan Islam
skripturalis maupun formalis, tetapi menumbuhkan rasa simpati bagi kalangan
Islam moderat, bahkan sangat menarik perhatian bagi para ilmuwan sosial untuk
mengamati dan mencermati keunikannya masing-masing. Azyumardi Azra menjelaskan
bahwa Islam satu itu hanya terdapat pada al-Qur’an. Tetapi alQur’an (serta
hadis) itu membutuhkan penjabaran yang rinci sehingga maksud ayatayatnya perlu
ditafsirkan dan dijelaskan. Akhirnya menumbuhkan penjelasan dan penafsiran yang
berbeda-beda hingga mengkristal menjadi bangunan mazhab maupun aliran. [1]
Pembahasan
A. Corak
dan Warna Awal Islam Nusantara
Menurut
teori A.H Johns para Sufi berhasil mengislamkan banyak penduduk di kepulauan
Melayu- Indonesia semanjak abad [2]. Para sufi menyajikan Islam dalam kemasan
yang atraktif, menekankan kesesuaian dan kontinuitas Islam dengan kepercayaan
dan praktik agama lokal ketimbang aspek perubahan. Kunci kesuksesan dakwah para
sufi pengembara itu terletak pada subtansi dan karakter ajaran para sufi
pengembara itu: tasawuf. “Mereka (para sufi pengembara) berkelana ke seluruh
dunia yang mereka kenal, yang secara sukarela hidup dalam kemiskinan; mereka
sering berkaitan dengan kelompokkelompok dagang atau kerajinan tangan, sesuai
dengan tarekat yang mereka anut
“Islamisasi Terbatas” Dalam pengamatan lain Azra—dengan meminjam istilah
Nock—menggunakan istilah “adhesi” daripada “konversi” sebagai fenomena
Islamisasi masyarakat Nusantara pada periode ini. “Adhesi” yakni perubahan
keyakinan pada Islam tanpa meninggalkan kepercayaan dan praktik keagamaan yang
lama, sedangkan “konversi” mengisyaratkan perubahan yang total dan
ketertundukan yang penuh pada Islam dengan menyingkirkan anasir-anasir lokal.
Sebagai seorang “modernis” Azra menambahkan bahwa “Wali Sanga di Jawa
mengenalkan Islam kepada penduduk lokal bukan dalam bentuk yang ekslusivitas
profetik, melainkan umumnya dalam bentuk kompromi-kompromi dengan
kepercayaan-kepercayaan lokal yang mapan yang banyak diwarnai takhayul atau
kepercayaan-kepercayaan animistik lainnya. Dalam banyak kasus, mereka menarik
banyak orang untuk memeluk Islam dengan menggunakan jimat, pesona ilmu
kesaktian dan trik-trik supernatural lainnya.[3]'
Azyumardi Azra menegaskan bahwa fakta geografis sangat penting dalam
memahami dan menjelaskan islamisasi di kawasan Nusantara. Posisi Nusantara yang
jauh dari Arab menyebabkan islamisasi ini sangat berbeda dengan islamisasi di
kawasankawasan lainnya baik di Timur Tengah, Afrika Utara maupun Asia Selatan.
Islamisasi di Nusantara menggunakan pendekatan kultural sehingga mencitrakan
cara-cara yang damai, sedangkan islamisasi di kawasan Timur Tengah menggunakan
pendekatan militer berupa penaklukan sehingga mencitrakan kekerasa[4]
Islam
Sufistik dan Nusantara Menurut Agus Sunyoto kesuksesan islamisasi di tanah Jawa
pada abad ke-15 dengan kedatangan rombongan muslim dari Champa, Raden Rahmat
(Sunan Ampel) sekitar tahun 1440 yang memiliki bibi yang diperistri Raja
Majapahit. Selanjutnya Islamisasi dimulai melalui jaringan para juru dakwah
(wali) secara terorganisir dan sistematis, mereka memanfaatkan jaringan
kekeluargaan, kekuasaan, kepiawaian mereka merebut simpati masyarakat. Kekuatan
gerakan ini terletak pada: (1) ajaran sufisme, (2) asimilasi dalam pendidikan,
(3) dakwah lewat seni dan budaya dan (4) membentuk tatanan masyarakat muslim
Nusantara.[5] Sufisme yang dimaksud adalah ajaran wahdatul wujud (kesatuan
wujud) dan wahdatus syuhud (kesatuan pandangan) sehingga tidak terlalu asing
dengan kepercayaan lokal yang mengakui banyak arwah di mana-mana, dan dalam
memandang benda-benda alam terpengaruh aura ketuhanan.
Proses
islamisasi terbatas dan bukan arabisasi menjadi kunci sukses gerakan dakwah
para Wali Sanga ini menghasilkan fenomena keislaman yang unik dan khas yang
disebut oleh Ricklefs sebagai “Sintesis Mistik”. Ajaran Islam dan kepercayaan
lokal tidak berhadap-hadapan dan bertentangan dalam pola kepercayaan lokal
(tesis) dan ajaran Islam sebagai anti-tesis, namun ada upaya untuk menemukan
sintesis dari keduanya, inilah cikal-bakal dari Islam Nusantara. Dalam
menerangkan “Sintesis Mistik” ini, menurut Ricklefs ada tiga pilar utama
kesadaran identitas Islami yang kuat: menjadi orang Jawa berarti menjadi
muslim; pelaksanaan lima rukun ritual dalam Islam: syahadat, shalat lima kali
sehari, membayar zakat, berpuasa Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji bagi yang
mampu; terlepas dari kemungkinan munculnya kontradiksi dengan dua pilar
pertama, penerimaan terhadap realitas kekuatan spiritual khas Jawa seperti Ratu
Kidul, Sunan Lawu (roh Gunung Lawu yang pada dasarnya adalah dewa angin) dan
masih banyak lagi makhluk adikodrati yang lebih rendah.
B. Konsep
dan Fenomena Awal Islam Nusantara
Dengan menggunakan
prinsip “Adhesi” bukan “Konversi”. “Adhesi” adalah perubahan keyakinan pada
Islam tanpa meninggalkan kepercayaan dan praktik keagamaan yang lama, sedangkan
“Konversi” mengisyaratkan perubahan yang total dan ketertundukan yang penuh
pada Islam dengan menyingkirkan anasir-anasir lokal. Wali Sanga di Jawa
mengenalkan Islam kepada penduduk lokal bukan dengan ekstrimisme melainkan dalam
bentuk kompromi terhadap kepercayaan local yang banyak diwarnai takhayul atau
kepercayaan animistik lainnya. Dalam banyak kasus, mereka menarik banyak orang
untuk memeluk Islam dengan menggunakan jimat, pesona ilmu kesaktian dan
trik-trik supernatural lainnya
Kesuksesan
islamisasi di tanah Jawa pada abad ke-15 dengan kedatangan rombongan muslim
dari Champa, Raden Rahmat (Sunan Ampel) sekitar tahun 1440 yang memiliki bibi
yang diperistri Raja Majapahit. Selanjutnya Islamisasi dimulai melalui jaringan
para juru dakwah (wali) secara terorganisir dan sistematis, mereka memanfaatkan
jaringan kekeluargaan, kekuasaan, kepiawaian mereka merebut simpati masyarakat.
Kekuatan gerakan ini terletak pada
Ajaran
sufisme “sintetis mistis”
Sufisme
yang dimaksud adalah ajaran wahdatul wujud (kesatuan wujud) dan wahdatus syuhud
(kesatuan pandangan) sehingga tidak terlalu asing dengan kepercayaan lokal yang
mengakui banyak arwah di mana-mana, dan dalam memandang benda-benda alam
terpengaruh aura ketuhanan
Aslimilasi
dalam Pendidikan
Asimilisasi
pendidikan adalah pembangunan pesantren yang mendidik generasi-generasi
pelanjut dakwah Islam, dalam konteks Raden Rakhmat (Sunan Ampel) terlihat peran
anak dan muridnya dalam perkembangan Islam di Jawa, seperti Sunan Bonang dan
Raden Fatah sebagai sultan dari kerajaan Islam pertama di Jawa, Demak.
3) Dakwah
lewat seni dan budaya
Gerakan
dalam seni dan budaya dalam bentuk wayang yang disesuaikan dengan kisah dan
nafas Islam, juga keterlibatan para wali dalam menyusun tembang, kidung, musik,
hingga permainan anak-anak yang bernafaskan Islam.
C. Konsep
dan Fenomena Pertengahan Islam Nusantara
Lahirnya Neo-Sufisme.
Neo-sufisme secara singkat dapat dikatakan sebagai upaya penegasan kembali
nilai-nilai Islam yang utuh, yakni kehidupan yang berkeseimbangan dalam segala
aspek kehidupan dan dalam segi ekspresi kemanusiaan
Dulu sufisme tidak tertarik untuk memikirkan masalah-masalah sosial
kemasyarakatan, bahkan lebih tertumpu ke arah aspek-aspek peribadatan saja.
Dari sudut lain, terdapat pula kelompok muslimin (bahkan mayoritasnya) yang
lebih mengutamakan aspek-aspek formal-lahiriah ajaran agama melalui pendekatan
eksoterik-rasional. Dari banyak usaha percobaan menyatukan antara dua pandangan
yang berbeda orientasi itu, maka al-Ghazali telah mengutarakan konsep yang
dikenal sebagai syariat, tarekat, hakekat dan makrifat yang terpadu secara
utuh.
Adapun
konsep neo-sufisme oleh Fazlur Rahman sesungguhnya menghendaki agar umat Islam
mampu melakukan tawazun (keseimbangan) antara pemenuhan kepentingan akhirat dan
kepentingan dunia, serta umat Islam harus mampu memformulasikan ajaran Islam
dalam kehidupan sosial. Kebangkitan kembali tasawuf di dunia Islam dengan
istilah baru yaitu Neo-Sufisme nampaknya tidak boleh dipisahkan dari apa yang
disebut sebagai kebangkitan agama.
D. Konsep
dan Fenomena Modern Islam Nusantara
Tiga sumber utama dari modernisme adalah teori dan praktik kapitalisme,
industrialisasi dan negara bangsa. Pada tahap ini Islam Nusantara sudah
terlibat aktif dalam politik kebangsaan dan juga dalam fenomena sosial budaya.
Di era modern ini wajah Islam Nusantara mengalami banyak kemajuan dan perubahan
yang berarti, salah satu yang mengembirakan adalah munculnya generasi Islam
yang berpikir progresif dan terbuka kepada konteks zaman yang diwarnai oleh
globalisasi serta arus informasi dan digitalisasi. Nilai-nilai pruralisme dan
wacana hak asasi manusia serta lingkungan hidup menjadi agenda yang kini makin
lama makin sering menjadi agenda bersama agama-agama di mana Islam terlibat
aktif di dalamnya.
F. kesimpulan
Islam Nusantara yang menandai corak keberagamaan
telah melewati proses panjang dalam aktivitas dakwah para pendahulu yang mampu
mengkomunikasikan pesan-pesan Islami di tengah budaya local masyarakat yang
jauh sebelumnya telah memiliki seperangkat tradisi dan ritual kepercayaan
non-Islami. Kajian dengan pendekatan fenomenologis dan analisis wacana terhadap
berbagai sumber literatur dan media sosial, mengungkapkan fakta bahwa
karakteristik keberagamaan Islam Nusantara dapat menginspirasi gagasan-gagasan
inklusif, dinamis, dan dialogis bagi pelaku dakwah sebagai model pengembangan
dakwah dengan pola komunikasi lintas budaya.
Daftar Pustaka
[1] M,Abdul Karim,Islam Nusantara,(Yogyakarta:2007),156-159
[2] Azyumardi
Azra, “Jaringan Islam Nusantara”, dalam Akhmad Sahal (eds.), Ibid.,171-172.
[3] Prof.
Dr. Azyumardi Azra, MA. Konteks Berteologi di Indonesia, (Jakarta: Paramadina,
1999),
[4] Al-Ghazali, Khuluq al-Muslim, (Kuwait: Daar al-Bayan,
1970), hlm. 31
[5] Armahedi
Mahzar, “Dari Reformasi ke Transformisme Islam: Refleksi Integritas Tentang
Angkatan 80- an” dalam ‘Kontroversi Pemikiran Islam di
Indonesia’(Bandung:PT.Remaja Rosdakarya:1990),219