Aktivitas Komunikasi Lintas Budaya Verbal dan Non Verbal
Dalam Dakwah
Islam merupakan ajaran yang
diturunkan agar manusia bisa bersosialisasi dengan orang lain. Kemudian
melahirkan budaya di masyarakat. Sebagai ajaran yang bersumber dari Allah,
Islam tidak bertentangan dengan manusia karena Allah adalah sumber ajaran dan
pencipta manusia dan alam. Islam memandang masyarakat sebagai komunitas sosial
dan wahana aktualisasi amal kebaikan. Banyak ayat Alquran yang membahas tentang
peran manusia di tengah-tengah manusia lain menempatkan Islam sebagai agama
yang paling manusiawi dibandingkan dengan agama lain. [1]
Komunikasi tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia,
baik secara individu maupun sebagai anggota masyarakat. komunikasi pada
dasarnya adalah penyampaian atau pengiriman pesan yang berupa pikiran atau
perasaan oleh seseorang. Perlu disadari bahwa peran komunikasi sangat
diperlukan dalam kehidupan bersosialisasi, bahkan dalam bidang pendidikan
agama. Seorang da’i harus dibekali ilmu komunikasi agar apa yang
disampaikanya dapat menjadi efektif dan mad’u dapat memahami pesan dengan
mudah. Telah disepakati bahwa fungsi komunikasi adalah menyampaikan, mendidik,
menghibur, dan mempengaruhi.
Aktivitas dakwah yang dilakukan itu menggunakan dua bentuk
komunikasi yaitu komunikasi yang bersifat verbal dan komunikasi yang bersifat
non verbal. Komunikasi yang bersifat verbal dilakukan dengan cara lisan atau
dengan kata-kata seperti pidato, khutbah, sya’ir dan sebagainya. Sedangkan
komunikasi nonverbal merupakan proses komunikasi dimana pesan disampaikan
melalui gerak isyarat, bahasa tubuh, ekspresi wajah dan simbol-simbol tulisan
seperti blog islami, wayang kulit, kaligrafi, buku sejarah islam, kisah para
nabi dan sahabatnya dan sebagainya. Namun dalam Dakwah verbal lisan masih
memerlukan bantuan isyarat nonverbal berupa gerakan tangan, gerakan bibir, dan
gerakan wajah. Adapun strategi ini dilakukan untuk memberi pendekatan budaya
dan meyakinkan mad’u.[2]
Adapun faktor penghambat aktivitas komunikasi
dakwah ini adalah:
a. Hambatan Sosio-antro-Psikologis proses
komunikasi berlangsung dalam konteks situasional. Ini berarti bahwa komunikator
harus memperhatikan situasi dan masalah yang muncul dimasyarakat.
b. Hambatan semantic. Faktor semantis menyangkut
bahasa baik lisan maupun tulisan yang dipergunakan komunikator sebagai “alat”
untuk menyalurkan pikiran dan perasaannya kepada komunikan. Demi kelancaran
komunikasinya seorang komunikator harus benar-benar memperhatikan gangguan
semantis ini, sebab salah ucap atau salah tulis dapat menimbulkan salah
pengertian.
c. Hambatan mekanis dijumpai pada media yang
dipergunakan dalam melancarkan komunikasi. Seperti suara microfon yang
krotokan, ketikan huruf yang buram tidak jelas dan double pada buku, suara yang
hilang-muncul pada pesawat radio, berita surat kabar yang sulit dicari
sambungan kolomnya, gambar yang meliuk-liuk pada storyboard, dan lain-lain. [3]
d. Hambatan ekologis disebabkan oleh gangguan lingkungan
terhadap proses berlangsungnya komunikasi, jadi datangnya dari lingkungan.
Contohnya adalah suara riuh orang-orang atau kebisingan lalu lintas, suara
hujan atau petir dan lain-lain pada saat da’i sedang menyampaikan materi.
[4]
DAFTAR PUSTAKA
[1] Toto Asmara, Komunikasi dakwah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997) cet ke-2
hal. 6
[3] nong Uchjana efendy, Dinamika Komunikasi, (Bandung: PT
Remaja Rosdakarya),2009, hlm. 11
Tidak ada komentar:
Posting Komentar