Minggu, 18 April 2021

Toleransi dan moderasi beragama

 

Toleransi dan moderasi beragama

 

A.     Latar belakang

Dalam kehidupan ini kita diberikan anugrahan yang luar biasa dalam hal kekayaan akan keberagama. Betapa tidak, kita diciptakan dengan berbagai macam bentuk yang berbeda, mulai dari bentuk tubuh, warna kulit, suku bangsa, budaya, dan agama untuk hidup berdampingan. Sebagai mahluk sosial yang tentu saling membutuhkan satu sama lain, sudah sepantasnya kita mensyukuri dan menyikapinya dengan baik dan bijaksana. Di dalam kehidupan nyata, tidak semua kekayaan tersebut dapat beriringan secara baik. Makna dari moderasi beragama itu bukanlah melakukan ”moderasi terhadap agama”, tetapi memoderasi pemahaman dan pengamalan umat beragama dari sikap dan pemahaman ekstrim. Moderasi beragama di tanah air ini untuk mewujudkan Indonesia yang adil dan makmur. Untuk menjembatani perbedaan dapat diupayakan melalui pendidikan agar tercipta kehidupan keberagamaan yang menimbulkan sikap saling menghormati dan menghargai antar umat beragama. Toleransi merupakan sikap menghargai orang lain yang mempunyai perbedaan baik dalam agama, suku, ras, dan bangsa. Sikap tersebut harus dimiliki setiap orang untuk menjaga kerukunan hidup bermasyarakat di suatu daerah bahkan negara.[1] 

Dalam konteks kehidupan berbangsa, tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini kita berhadapan dengan persoalan politik kewarganegaraan yang kompleks terkait dengan perbedaan identitas. Menghargai keberagaman, mengakui keberadaan dan hak orang lain, masih menjadi pekerjaan rumah yang biasa dalam menyelesaikan persoalan bangsa kita. Dalam banyak kasus, terdapat intoleransi yang memanifestasikan dirinya dalam tindakan yang mendiskreditkan kelompok lain. Realitas sosial masa kini yang mengalami banyak perubahan dari waktu ke waktu ternyata telah meningkatkan kecerdasan antar umat beragama, sehingga konflik antar umat beragama semakin terlihat.

B.      Pengertian Toleransi

Secara bahasa istilah toleransi berasal dari bahasa inggris “tolerance” yang berarti membiarkan, mengakui dan menghormati keyakinan orang lain tanpa persetujuan. Sedangkan dalam bahasa arab istilah toleransi merujuk pada kata “tasamuh” yang berarti saling mengizinkan atau saling memudahkan. Artinya, seseorang dapat menenggang segala-perbedaan yang ada dalam lingkup kehidupannya. Soerjono soekanto memberikan definisi toleransi sebagai suatu sikap yang merupakan perwujudan pemahaman diri terhadap sikap pihak lain yang tidak disetujui. Di sini ada perwujudan sikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) baik itu berupa pendapat, pandangan, kepercayaan, maupun kebiasaan kelakuan dan lain sebagainya yang berbeda dengan pendiriannya sendiri. Contohnya ialah toleransi agama, suku, ras, dan sebagainya. Dalam konteks kehidupan berbangsa, tidak dimungkiri bahwa kita sekarang menghadapi persoalan politik kewargaan yang rumit kaitannya dengan perbedaan identitas. Sikap menghargai terhadap kemajemukan untuk mengakui eksitensi dan hah-hak orang lain, masih menjadi pekerjaan rumah bersama dalam mengelola problem bangsa kita. Dalam banyak hal, yang terjadi justru intoleransi yang diwujudkan dalam tindakan-tindakan yang mendiskreditkan kelompok lain. Realitas sosial saat ini yang dari masa kemasa membuat banyak perubahan, inteloransi justru tumbuh antara umat beragama sehingga konflik antara umat beragama semakin terlihat.

C.     Toleransi multicultural

Indonesia telah lama dikenal sebagai negara laut yang luas dan wilayahnya terdiri dari ribuan pulau, baik besar maupun kecil, dimana pulau-pulau tersebut dipisahkan oleh lautan luas. Keragaman muncul dari pulau-pulau ini dalam hal ras, agama, budaya, suku, dan bahasa. Namun di sisi lain, keberagaman ini juga dapat menimbulkan konflik, karena banyaknya perbedaan yang muncul di masyarakat. Oleh karena itu, untuk mencegah timbulnya konflik diperlukan toleransi antar sesama anggota masyarakat. Toleransi dapat diartikan sebagai rasa atau sikap menghargai antara individu dan kelompok dalam masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Selain pencegahan konflik, toleransi dapat meningkatkan rasionalisme dan meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia. 

Masyarakat multikultural di sini lebih dipandang sebagai masyarakat yang memiliki kesetaraan dalam tindakan di negaranya. Masyarakat multikultural tidak hanya merupakan konsep keanekaragaman etnis atau budaya nasional dalam masyarakat pluralis, tetapi lebih menekankan pada keanekaragaman budaya pada kesetaraan. Islam adalah agama yang memelihara toleransi antar umat beragama. Namun prinsip toleransi dalam Islam berbeda karena kita tidak boleh ikut hajatan dan ucapan selamat atas perayaan umat beragama lain. Dalam Islam, prinsip ajaran toleransi adalah menghormati tanpa menghalangi pemeluk agama lain untuk beribadah dan merayakan hari besar keagamaan. 

لَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْٓا اِلَيْهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ

artinya: Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.  (Q.S Al- Mumtahanah ayat 8-9[2]

D.    Pengertian moderasi beragama

Dalam buku moderasi beragama yang diterbitkan oleh badan litbang dan diklat kementerian agama tahun 2019 membuat analogi moderasi beragama sebagai gerak dari pinggir yang selalu cenderung menuju pusat atau sumbu (centripetal) berlawanan arti dengan ekstremisme yakni gerak yang bergerak menjauhi sumbu, menuju sisi terluar dan ekstrem (centrifugal). Ibarat bandul jam, ada gerak yang dinamis, tidak berhenti di suatu sisi luar secara ektrem, melainkan bergerak menuju ketengah-tengah.  dari segi bahasa, moderasi beragama, atau isalm wasatiyah (serapan dari bahasa arab) dan islam moderat (serapan dari bahasa inggris) memiliki kesamaan interpretasi. Jika kata wasatiyah diserap kedalam bahasa indonesia menjadi pengatur atau penegah kompetisi oleh raga dengan dasar huruf yang sama menjadi ism fa’il “wasit”. Shalat wustha setelah salat secara umum berarti menunjukkan pengkhususan dan pentingnya penjagaan dan perwatan salat wustha. Salat wustha salat yang ditengahtengah dan yang paling utama. demikian pula dengan kata moderation menjadi moderator sebagai penengah dalam mengarahkan pertemuan. Moderat selalu menghindari pengungkapan (pembicaraan) yang ekstrem, selalu menghindar sikap, atau tindakan yang ekstrem, kecenderungan ke jalan tengah. Memperhatikan berbagai pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa moderasi beragama adalah mengimplementasikan ajaran agama secara universal sesuai dengan ajaran dan kepercayaan masaing-masing. Universal dalam artian manusia konsisten mengamalkan agama dengan baik kepada sesama pemeluk agama maupun perilaku beragama kepada lintas agama dan kepercayaan.

E.     Tantangan moderasi beragama

Berbagai dinamika merupakan hal yang wajar bagi masyarakat. Namun akan mejadi tidak wajar jika dinamika tersebut direspon dengan sikap yang tidak seharusnya. Contoh anak A beragama islam bermain di rumah anak B beragama Hindu. Orang tua anak A melarang bermain anaknya ke rumah B karena berbeda agama. Hal ini merupakan sikap yang tidak positif sebab dapat mencederai perasaan individu dan menyulut ketersinggungan beragama. Disinilah pentingnya mengajari anak dan keluarga tentang arti dari moderasi beragama. Moderasi beragama harus dipahami sebagai sikap beragama yang seimbang antara pengamalan agama sendiri (eksklusif) dan penghormatan kepada praktik beragama orang lain yang berbeda keyakinan (inklusif). Keseimbangan atau jalan tengah dalam praktik beragama ini niscaya akan menghindarkan kita dari sikap ekstrem berlebihan, fanatik dan sikap revolusioner dalam beragama. Seperti telah diisyaratkan sebelumnya, moderasi beragama merupakan solusi atas hadirnya dua kutub ekstrem dalam beragama, kutub ultrakonservatif atau ekstremkanan disatu sisi, dan liberal atau ekstrem kiri disisi lain.[3] 

Di era modern dan serba teknologi,  muncul pula pemikiran-pemikiran yang modern.Tentunya pemikiran-pemikiran tersebut tidak terlepas dari bermacam aspek seperti aspek pendidikan, sosial, ekonomi, politik bahkan keagamaan. Modernisasi dalam bidang sains dan teknologi, manusia dituntut untuk terus maju dan mampu beradaptasi pada segala lini kehidupan(Mahfudz, A. 2016).. Pada era kemajuan ini ini membawa dampak kemajuan  pada masyarakat. Sosial media menjadi salah satu dampak dari kemajuan teknologi (Sainuddin, I. H., S. 2020, July27).  Di sisi lain dengan kemajuan teknologi,  agama tidak bisa terlepas dan merupakan menjadi pedoman bagi manusia dalam menentukan arah hidup ke depan (Amran, A. 2015).  Salah satu ituyang menjadi dampak dari era modernisasi adalah fenomena radikalisme. Fenomena radikalisme yang muncul dan terjadi dimulai di wilayah timur tengah (Asrori A. 2015).  Ini terjadi akibat dari terjadinya krisis identitas yang dimana merupakan mayoritasberagama menolak terjadinya modernisasi. Dengan  penolakan terhadap modernisasi yang dicanangkan oleh negara barat  kepada masyarakat Islam, maka terjadi sebuahkemunduran.  Kemudian akibat dari penolakan tersebut, maka muncul paham radikal dalam tatanan masyarakat Islam sehingga terjadi kemerosotan moral dan agama yang disebabkan oleh kemajuan teknologi sehingga ilmu pengetahuan dalam modernisasi pemahaman Islam yang berhaluan Barat (Makhmudah, S. 2015).  Munculnya paham radikalisme merupakan suatu bentuk dari ekspresi orang Islam yang berhauan barat[4] 


Daftar pustaka:

[1] Silmi Qurota Ayun Ariadin, Toleransi Multiagama dan Multikultural Jadi Tali Pemersatu Bangsa,

[2] https://tafsiralquran.id/

[3] Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, Moderasi Beragama, Cet. I (Oktober 2019), h. 33.

[4] M. Dhuha Abdul Jabbar & N. Burhanuddin, Ensiklopedia Makna al-Qur’an Syarah alFaazhul Qur’an, h.713,713

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DAKWAH MULTIKUTURAL UAS

  SMALL BOOK  DAKWAH MULTIKUTURAL  Disusun oleh: ALFIAN FAHMI KATA PENGANTAR   Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, ...