Moderasi Agama dalam Fundamental
dan Pendekatan Dakwah
Istilah moderasi diambil dari bahasa arabik dari akar
kata yang sama yaitu ََسَو َ ط
yang artinya tengah atau moderat. Dalam islam berarti menyatakan watak Islam
adalah moderat dalam hal bertindak dan moderat dalam segala urusan baik,
tindakan, ucapan, atau pikiran. [1]
Dalam
moderasi beragama kita dituntut untuk meningkatkan kualitas keilmuan dan selalu
bertindak menjaga akal dan budi serta selalu bertindak adil dan menjaga
keseimbangan dalam toleransi beragama, karena moderasi Bergama berupaya mewujudkan
Indonesia yang toleran, rukun dan damai. Masih menurut Prof Arskal tantangan
sosial sekarang dimana hidup yang penuh dengan lautan data/informasi,
dihadapkan pada pilihan-pilihan rumit di era pascakebenaran (post-truth) sehingga banyak dibantu oleh teknologi
informasi yang bisa mengakibatkan degradasi nilai dan rasa sosial kemanusiaan.
Moderasi agama hadir untuk mengatasi persoalan- persoalan diatas. Hubungannya
dengan perguruan tinggi moderasi kelembagaan harus diwujudkan dengan cara
mengembangkan institusi menjadi modern namun tetap dapat memperkuat akar dan
tradisi islam. Selain itu perguruan tinggi dituntut untuk menciptakan lulusan
yang berkualitas, berdaya saing, menguasai iptek dengan tetap merujuk pada
nilai-nilai islam.[2]
Allah SWT menciptakan orang-orang dari berbagai suku, ras, dan bangsa untuk saling mengenal. Berkat pengantar ini, mereka dapat belajar, memahami, memahami, dan menikmati manfaat moral dan materi. Perkenalan ini niscaya menginspirasi semua pihak untuk menjadi lebih baik dari yang lain dan bersaing dalam kebaikan.
Multikultural Landasan dakwah multikultural dapat ditemukan dalam kitab suci Al-Qur’an yang menegaskan bahwa fakta multikultural kemanusiaan yang beragam dan berbeda satu sama lain adalah kehendak. sekaligus sunatullah bagi kehidupan manusia di ruang sejarah. Multikulturalisme mengacu pada konsep multidimensi keberagaman yang meliputi aspek bahasa, warna kulit, budaya, suku, bangsa dan agama. Ketika kita mengacu pada Alquran, kita menemukan bahwa kemanusiaan yang multikultural adalah kehendak dan sunnatullah dalam kehidupan manusia sepanjang sejarah. Di ayat selanjutnya kita bisa lihat QS.ALHUJURAT.13: Yang artinya Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.[3]
Allah SWT menciptakan orang-orang dari berbagai suku, ras, dan bangsa untuk saling mengenal. Berkat pengantar ini, mereka dapat belajar, memahami, memahami, dan menikmati manfaat moral dan materi. Perkenalan ini niscaya menginspirasi semua pihak untuk menjadi lebih baik dari yang lain dan bersaing dalam kebaikan.
DAFTAR PUSTAKA:
[1] (Achmad Yusuf; Jurnal
Pendidikan agama islam). Volume 15, Nomor 2, Oktober 2019
[2] https://unmabanten.ac.id/2020/03/14/moderasi-beragama-sebagai-upaya-penguatan-esensi-agama/
[3] https://kalam.sindonews.com/ayat/13/49/al-hujurat-ayat-13
Tidak ada komentar:
Posting Komentar